SaRApaN PaGi

>> Thursday, April 28, 2005

Pagi2 ke kampus, sampe kantin celingak celinguk, sarapan apa ya?

Di kantin kampus hanya ada 2 food stall yg boleh di beli, Indian dan Muslim Food.
Untuk sarapan, martabak dan prata Indian food ok juga ... tapi udah bosen...
Kalau diingat2, kira2 sudah selama 2 bulan terakhir ini saya sarapannya prata terus, sampai2 yg jualan udah hafal. Setiap pagi cukup saya berdiri didepan stallnya tanpa bilang apa2, bapak india nya udah langsung bungkusin 1 plain prata tanpa kari, tapi pake gula. hehe. Pede banget deh bapaknya, untung aja saya emang mau beli prata.

Kalau muslim food, banyak juga pilihan untuk sarapan, ada bihun goreng, mie goreng, kwee tiau goreng, nasi lemak, sama jajanan2 kecil. Tapi lebih seringnya saya tidak tertarik dgn itu semua, mungkin krn terlalu berminyak.

Akhirnya, pagi ini berpikir untuk beli minum aja, dan spt biasa, jasmine tea (setelah bosan dgn milo, skrg saya ikut tergabung dalam rombongan penggemar jasmine tea bersama dgn 4D yang lain (Dini, Dita, Dea, D'intan) =D).

Eh pas berdiri di depan drink stall...tiba2 mata ini tertumpu pada tumpukan mangkok2 plastik berisi tahu putih2...
Wah...itu...itu...apa ya namanya...penasaran...namanya apa ya? duh kok lupa...
Setelah berusaha keras mengingat2, soya... soya... soya bean... (masih mengingat2, ada kata terakhir yg lupa)... soya bean curd, iya soya bean curd. Waaaa udah lama ngga ketemu dan akhirnya... sarapan pagi ini pun dgn soya bean curd =D (walopun saya tidak suka soya bean -saja- tanpa -curd-).

Soya Bean Curd is also known as "Tao Huay" to Singaporeans. It's the soft soya bean dessert soaked in a bowl of sugared water. The best bean curd can be so soft and gentle, it rolls right off your tongue with a slurp! YUMMY!

Read more...

Wafatnya Syeikh Albani

>> Wednesday, April 27, 2005

Sumber: Milist Assunnah
(selengkapnya di http://groups.yahoo.com/group/assunnah/message/17660)

Penulis: Abu Abdurrahman Muhammad Al Khatib

Pada hari ini Sabtu 2 oktober 1999 ribuan bahkan jutaan orang menangis, mereka menangis karena mendengar sebuah berita duka, yang merupakan musibah besar dengan wafatnya seorang Imam besar.

Berita duka ini sampai kepadaku seusai shalat ashar hari ini dari istri beliau rahimahullah. Dengan serta merta aku menuju rumah sakit tempat beliau dirawat. Disana aku jumpai istri dan putra beliau Abdul Lathif yang menemani beliau selama masa perawatan.

Setelah masuk kamar tiba-tiba kusaksikan dihadapanku jasad Syaikh rahimahullah yang telah ditutup dengan selembar kain, dibaringkan diatas sebuah tempat tidur. Air mataku mengalir tidak mampu menahan tangisan atas kepergiannya. Kubuka wajahnya yang bercahaya lalu kucium keningnya. Kami mengangkat jasadnya untuk dimuat disebuah mobil milik salah seorang teman, lalu membawanya ke rumah duka.

Ikut bersama kami di mobil jenazah, putra beliau Abdul Lathif. Ia sangat sedih dan banyak mengucurkan air mata. Kami menghibur dan menasihatinya untuk bersabar. Ia hanya memandang kami sedang kedua matanya meneteskan air mata yang banyak.

Abdul Lathif menceritakan kondisi ayahnya sehari sebelum wafat, ia berkata: Hingga kemarin dalam kondisi sakitnya yang semakin parah ayah masih sempat berkata: "Berikan kitab shahih sunan Abi Dawud!!"

Aku katakan: "Subhanallah (Maha suci Allah), semoga Allah swt membalas kebaikanmu ya Syaikh. Sungguh engkau telah hidup sepanjang usiamu, siang dan malam, engkau membela Sunnah Rasulullah hingga akhir hidupmu. Dalam kondisi tidak mampu menegakkan punggungmu, aku melihatmu menyuruh putra atau cucu-cucumu menulis, tanpa mengenal sakit dan tidak pula mengeluhkan kesakitanmu. Semua itu tiada lain kecuali anugerah dan keutamaan dari Allah swt yang diberikan kepadamu, maka Dia-lah yang maha pemberi karunia dan keutamaan".

...

Demikian sang Imam dan tokoh ini kembali kepada Rabbnya Tabaraka wata'ala dengan meninggalkan warisan ilmu yang bermanfaat, tergores di sela-sela ratusan karya tulisnya yang kemudian Allah mentakdirkannya diterima di seantero dunia bahkan sebagiannya telah diterjemahkan ke beragam bahasa di dunia ini. Demikian pula beliau telah meninggalkan sejumlah muridnya yang berjalan diatas manhaj salaf yang dianutnya selama hidup beliau. Semoga dengan pertolongan Allah swt merekapun akan berjalan diatasnya hingga datangnya ajal.

Read more...

Tak Lagi "Bertemu-Untuk-Berpisah"

>> Tuesday, April 26, 2005

Alhamdulillah...
Status: #offered admission#
Insya Allah ngga lama lagi bisa melihat suami setiap hari =D

*jadi terpikir untuk pulang wonogiri lagi...hiyaaa*

Read more...

Masalah Iraq dan Palestina

>> Monday, April 25, 2005

Diambil dari Rekaman Kajian Ust. Yazid Abdul Qadir Jawaz dengan judul "Prinsip2 Dasar Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah"

(Jawaban ustadz senada dengan apa yg disampaikan oleh Ust. Mubarok pada Daurah di Batam kemarin ketika ditanya mengenai isu bahwa Masjidil Aqsa sedang dalam ancaman bahaya)

Ust Jazid ditanya:
Bagaimana tentang masalah Iraq dan Palestina?

Ust. menjawab:
Ikhwan fiddien a'azzakumullah, mengenai masalah ini, yang menentukan adalah ulama (bukan ustadz ataupun da'i).

Disini saya perlu memberi suatu penjelasan bahwa ketika ada suatu nazilah (musibah) yg menimpa kaum muslimin, kita harus melihat dengan 2 hal.

1. Melihat dengan 'ainul qadar

Bahwa semua yg terjadi di langit dan di bumi dan apa yg menimpa pada diri kita, yg menimpa kepada kaum muslimin, semuanya sudah ditakdirkan oleh Allah Subhanahuwata'ala 50 ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. "Tidak ada yg menimpa kamu dimuka bumi ini melainkan Allah sudah mencatatnya di Lauh Mahfud." (QS...) Jadi semua yg menimpa kaum Muslimin yang terjadi dimana saja; di Iraq, Palestina, Afganistan, maupun Chechnya, semuanya berjalan dengan takdir Allah. Dan takdir Allah ini hikmahnya sangat banyak, yang mungkin belum kita ketahui semuanya.

2. Melihat dengan 'ainusy syara'

(a) Bahwa terjadinya adalah berkaitan dengan asbab

Sebab musibah yg menimpa kaum muslimin adalah dengan sebab-sebab berikut diantaranya: perbuatan dosa yang mereka lakukan, adanya penguasa yang dholim, adanya kesyirikan atau adanya ma'siat. "Dan apa saja musibah yg menimpa kalian itu adalah dengan sebab tangan-tangan kalian dan Allah banyak memberikan maaf." (QS...)

(b) Bahwa ketika terjadi musibah/peperangan itu, kita harus mengetahui siapa saja yang berhak untuk menjelaskan/memberi perintah?

Hal ini haruslah jelas, bukan setiap orang bisa mengatakan bahwa kita harus jihad. Jihad adalah bukan haq kita tetapi adalah haqnya ulil amri. Dalam prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah, bahwa kita berjihad (dan kita haji) adalah bersama ulil amri (terlepas dari apakah mereka orang-orang yang baik atau tidak). Jadi mengenai jihad ini harus ada ulil amri, bukan satu per satu dan bukan orang per orang. Ulil amri lah yg seharusnya berbicara mengenai masalah ini dan ulama lah yg seharusnya menjelaskan masalah ini.

Jadi yang menentukan nazilah adalah ulama, maka ada istilah Fiiqunnawazil (fiqh ttg nazilah). Jika ditanyakan, lalu bagaimana sikap kita? apakah membantu kaum muslimin? Ya tentu saja kaum muslimin yang betul-betul lemah dan butuh pertolongan seharusnya dibantu. Tetapi perlu diketahui, bahwa di Iraq, penguasanya sendiri adalah penguasa yang dholim dan partainya adalah orang2 yang tidak sholat dan tidak berpuasa. Bagaimana kita bisa mendoakan orang yang seperti itu? Kemudian, pemerintahan Iraq adalah sekuler dan 60% penduduk Iraq aadalah syi'ah, hanya sedikit saja muslim yang sunni.

Lalu jika ditanya, apakah boleh kita mendoakan mereka? Boleh saja mendoakan, tetapi mengenai qunut nazilah, ada baiknya kita melihat pendapat para ulama. Karena ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Syeikh Utsaimin berpendapat bahwa qunut nazilah adalah ulil amri yg menentukan. Jadi boleh kita doakan kaum muslimin, tetap mereka kita doakan, tetapi tidak mesti dengan qunut nazilah. Menurut DR. Sholeh bin Abdul Aziz Alu Syeikh (menteri agama Saudi Arabia sekarang, seorang yang dipuji kesholehannya oleh para ulama), mengatakan bahwa qunut nazilah itu ada pada jaman Rasulullah, ada di masjidnya Rasulullah, tidak dimasjid di kampung2 lain, artinya ulil amri lah yang menentukan qunut nazilah.

Wallahu'alam.

Read more...

Kajian Islam Ilmiyyah

>> Tuesday, April 19, 2005

Iklan... iklan...
Bagi ikhwan yang bisa hadir, insya Allah bisa diusahakan tempat dengan fasilitas seadanya untuk 4 orang. Bagi ikhwan/akhwat yg menginginkan rekamannya, silakan sms, insya Allah direkamkan (tentunya dengan ijin para Ustadz).

Read more...

Tuntunan Sujud

Dikutip dari: http://www.assunnah.mine.nu
Bab: Kajian tentang Wudhu dan Sholat 02
Oleh: Ust. Mubarok

Semoga bermanfaat dan menambah semangat untuk memperbaiki dan menyempurnakan sujud kita.

Setelah menjelaskan bagian-bagian sholat sebelumnya, Ust. Mubarak kemudian menjelaskan mengenai sujud. Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan saat sujud:

  1. Sujud dengan gerakan yang wajar. Jangan dipaksakan seperti orang push up sampai-sampai tangannya gemetar karena tangannya terlalu dibuka dan dipanjangkan kakinya.
  2. Sujud harus diatas tujuh anggota badan: 2 telapak tangan, 2 lutut, jari-jari kaki di kedua kaki, dan jidat/hidung (jidat dan hidung jadi 1). "Aku diperintahkan oleh Allah untuk sholat diatas 7 anggota badan", (HR...)
  3. Jari-jari tangan dirapatkan sewaktu sujud itu, diletakkan tidak boleh melebihi telinga (sejajar dengan telinga)
  4. Jari-jari kaki ditegakkan, dirapatkan/tidak dipisah dan sedikit ditekan
  5. Antara tangan dengan badan bagian samping harus terpisah, demikian pula saat ruku'
  6. Antara paha dengan perut juga harus terpisah

Wallahuta'ala 'alam

Read more...

Seputar Haid dan Mengqadha Sholat

>> Thursday, April 14, 2005

Sumber: Fatwa-Fatwa Tentang Wanita
Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Penyusun: Amin bin Yahya Al-Wazan
Penerbit: Darul Haq

Pertanyaan:
(1) Apakah hukumnya jika seorang wanita mendapatkan haidh beberapa saat setelah masuknya waktu shalat, apakah wajib baginya untuk mengqadha shalat itu pada saat suci?

(2) Begitu juga jika seorang wanita mendapatkan kesuciannya beberapa saat sebelum habisnya waktu shalat, wajibkah ia melaksanakan shalat itu ?

Jawaban:
(1) Jika seorang wanita mendapatkan haidh beberapa saat setelah masuknya waktu shalat dan ia belum melaksanakan shalat itu sebelum datangnya haid maka wajib baginya untuk mengqadha shalat itu jika ia telah suci.

Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam: "Barangsiapa yang dapat melakukan satu rakaat dari suatu shalat maka berarti ia telah mendapatkan shalat itu."

Dan jika seorang wanita telah memasuki waktu shalat sekedar satu rakaat, kemudian ia mendapatkan haidh sebelum melakukan shalat itu maka diharuskan baginya untuk mengqadha shalat itu jika ia telah suci.

(2) Jika ia mendapatkan kesuciannya dari haidh beberapa saat sebelum habisnya waktu shalat, maka wajib baginya untuk mengqadha shalat itu, walaupun ia mendapatkan kesuciannya beberapa saat sebelum terbitnya matahari sekadar waktu yang cukup untuk satu rakaat, maka wajib baginya untuk melaksanakan shalat Shubuh.

Begitu pula jika ia mendapatkan kesuciannya beberapa saat sebelum terbenamnya matahari sekadar waktu yang cukup untuk satu rakaat maka wajib baginya untuk shalat Ashar.

Jika ia mendapatkan kesuciannnya sebelum pertengahan malam sekadar waktu yang cukup untuk satu rakaat maka wajib baginya untuk melaksanakan shalat Isya.

Jika ia mendapatkan kesuciannya beberapa saat sesudah pertengahan malam maka wajib baginya untuk melaksanakan shalat Isya dan diwajibkan baginya untuk melaksanakan shalat Shubuh jika telah datang waktu shalat Shubuh.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman". (An-Nisa': 103-104)

Yakni, shalat yang wajib itu ditentukan oleh waktu yang terbatas, yang mana tidak boleh baginya untuk melaksanakan shalat jika telah habis waktunya, juga tidak boleh melaksanakan shalat sebelum tiba waktunya.

Read more...

Waktu Yang Paling Afdhal Untuk Melaksanakan Shalat

>> Tuesday, April 12, 2005

Sumber: milis assunnah (Disalin dari buku Majmu' Arkanil Islam, edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah, Bab Ibadah, hal. 333-335, Pustaka Arafah)

Pertanyaan: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Manakah waktu yang paling afdhal untuk melaksanakan shalat? Apakah shalat diawal waktu itu lebih afdhal?

Jawaban:
Melaksanakan shalat sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh syar'i adalah lebih sempurna oleh karena itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda ketika menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya: "Amalan apakah yang paling dicintai Allah? Beliau menjawab: Shalat tepat pada waktunya." [1]

Beliau tidak menjawab -shalat pada awal waktu- dikarenakan shalat lima waktu ada yang sunnah untuk didahulukan pelaksanaannya dan ada yang sunnah untuk diakhirkan. Misalnya shalat isya', sunnah untuk mengakhirkan pelaksanaannya sampai 1/3 malam.

Maka apabila seorang wanita bertanya mana yang lebih afdhal bagi saya, saya shalat isya' ketika adzan isya' atau mengakhirkan shalat isya' sampai 1/3 malam? Jawabannya: Yang lebih afdhal adalah kalau dia mengakhirkan shalat isya' sampai 1/3 malam, karena pada suatu malam Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengakhirkan shalat isya' sehingga para shahabat berkata: 'Wahai Rasulullah, para wanita dan anak-anak telah tidur, lalu beliau keluar dan shalat bersama mereka kemudian bersabda: "Sesungguhnya inilah waktu yang paling tepat (untuk shalat isya') kalaulah tidak memberatkan umatku." [2]

Demikian pula dianjurkan bagi para laki-laki muslimin yaitu laki-laki yang mengalami kesulitan disaat bepergian. Mereka berkata: Kami akhirkan shalat atau kami dahulukan? Kita jawab: Yang lebih afdhal hendaknya mereka mengakhirkan.

Demikian pula kalau sekelompok orang mengadakan piknik dan waktu isya' telah tiba, maka yang lebih afdhal melaksanakan shalat isya' pada waktunya atau mengakhirkannya? Kita menjawab: Yang paling afdhal hendaklah mereka mengakhirkan shalat isya' kecuali kalau mengakhirkannya mendapat kesulitan. Shalat subuh, dhuhur, ashar, dan maghrib, hendaknya dikerjakan pada waktunya kecuali ada sebab-sebab tertentu.

Adapun shalat fardhu selain shalat isya' dilaksanakan pada waktunya lebih utama kecuali ada sebab-sebab tertentu untuk mengakhirkannya. Adapun sebab-sebab tertentu antara lain:

(1) Apabila cuaca terlalu panas maka yang paling afdhal mengakhirkan shalat dhuhur pada saat cuaca sudah lebih dingin, yaitu mendekati waktu shalat ashar; sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam: "Apabila cuaca sangat panas maka carilah waktu yang dingin untuk shalat, karena hawa panas itu berasal dari hembusan neraka jahannam." [3]

Adapun Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pada saat safar, Bilal berdiri untuk adzan maka Rasulullah bersabda: "Carilah waktu dingin." [4] Kemudian Bilal berdiri lagi untuk adzan, Rasulullah mengizinkannya.

(2) Seorang yang mendapatkan shalat berjama'ah diakhir waktu sedangkan diawal waktu tidak ada jama'ah, maka mengakhirkan shalat lebih afdhal.

Contohnya seperti seseorang yang telah tiba waktu shalat sedangkan ia berada di daratan, ia mengetahui akan sampai ke satu desa dan mendapatkan shalat berjama'ah diakhir waktu, maka manakah yang lebih afdhal ia mendirikan shalat ketika waktu shalat tiba atau mengakhirkannya sehingga ia shalat secara berjama'ah? Kita katakan: Sesungguhnya yang lebih afdhal mengakhirkan shalat sehingga mendapatkan shalat secara berjama'ah, yang kami maksudkan mengakhirkan disini demi hanya untuk mendapatkan shalat berjama'ah.

[1] Hadits Riwayat Bukhari, Kitabul Mawaqit, bab Fadhul Shalat Liwaktiha,dan Muslim. Kitabul Al-Iman, bab Launul Iman billahi Ta'ala afdahl Al-Amal.
[2] Hadits Riwayat Muslim. Kitabul Masyajidi, bab Waktul isya' wa takhiruka.
[3] Hadits Riwayat Bukhari, Kitabul Mawaqiti Shalat, bab Al-Ibrad bi dhuhrifi siddatil harri, dan Muslim, Kitabul Masajid, bab Istihbab Al-Ibrad didhuhuri.
[4] Hadits Riwayat Bukhari, Kitabul Mawaqiti Shalat, bab Al-Ibrad bi dhuhurifi safar, dan Muslim. Kitabul Masajidi, bab Istihbab Al-Ibrad bi dhuhuri fisiddatil harri.

Read more...

Inilah tanda2 kekuasaan ALLAH bagi kaum yang berfikir...

>> Thursday, April 07, 2005

Pernah melihat atom? Baru kemarin saya melihat atom-atom Silicon secara langsung menggunakan Transmission Electron Microscope (TEM) (perbesaran 1.2 juta kali).

Subhanallah, atom-atom dengan diameter 5 Angstrom (1/10 milyar meter) tersebut tersusun begitu rapi, tanpa cacat. Satu persatu duduk di posisi equilibrium mereka dengan jarak yang sama sehingga berada di energy state yang paling rendah dan stabil.

"Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati. Ya (bahkan) sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." [Al-Ahqaf: 33].

"Dan Tidaklah Rabb yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu? Benar Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui, Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah! ' maka terjadilah ia." [Yasin: 81-82].

Katakanlah: "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?" Mereka akan menjawab, "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak ingat?" Katakanlah: "Siapakah yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya 'Arsy yang besar?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak bertaqwa?" Katakanlah: "Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu, sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dililndungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "(kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?" [Al Mu'minuun: 84-89]

Read more...

Batas akhir shalat isya

>> Tuesday, April 05, 2005

Sumber: Asy-syariah online.

Pertanyaan: sebenarnya batas akhir shalat Isya itu kapan, karena sering ana lihat teman ana shalat Isya sampai jam 03.00 pagi bahkan sudah mendekati fajar?

Jawaban: (oleh Al Ustadz Luqman Baabduh)

Para ulama berbeda pendapat tentang batasan akhir shalat Isya':
Pendapat 1, batas akhir waktu shalat Isya adalah sampai dengan 1/4 malam yang pertama.
Pendapat 2, batas akhir waktu shalat Isya adalah sampai dengan 1/3 malam yang pertama.
Pendapat 3, batas akhir waktu shalat Isya adalah sampai dengan pertengahan malam.
Pendapat 4, batas akhir waktu shalat Isya adalah sampai terbit fajar yang kedua.

Dari sekian pendapat ini, yang paling rajih (kuat) insya Allah adalah pendapat ketiga, yaitu pendapat yang menyatakan bahwa batas akhir waktu shalat Isya adalah hingga pertengahan malam. Hal ini didasarkan pada hadits Abdillah bin 'Amr bin Al 'Ash, yang diriwayatkan Al Imam Muslim, bahwa Rasulullah bersabda:"...dan akhir dari waktu shalat Isya adalah sampai dengan pertengahan malam." (HR. Muslim no.172)

Apa yang terkandung dalam hadits ini tidaklah bertentangan dengan hadits Ibnu 'Abbas, sebagaimana yang diriwayatkan At Tirmidzi dan Abi Daawud, bahwa Rasulullah bersabda: "Dan akhir dari waktu shalat Isya adalah setelah mencapai 1/3 malam (yang pertama)." (HR Abu Tirmidzi dan Abu Dawud)

Hal ini dikarenakan sepertiga malam yang pertama, masih merupakan bagian dari setengah malam yang disebutkan dalam hadits Abdillah bin 'Amr bin Al 'Ash, sebagaimana telah disebutkan oleh Al Imam As Syaukaani dalam kitabnya Ad Daroori Al Mudhiiah, jilid I hal. 175-176.

Adapun tentang pendapat yang menyatakan bahwa batasan akhir waktu shalat Isya sampai terbitnya fajar kedua, maka telah berkata Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari jilid II hal. 244: Aku tidak mendapatkan adanya satu hadits pun yang jelas dan shahih, yang menjelaskan bahwa waktu akhir shalat Isya adalah sampai terbitnya fajar kedua.

Begitu pula Al Imam Al Bukhari telah menyebutkan dalam shahihnya; Baab Waqtil 'Isyaa'i ilaa Nishfil Laili yaitu bab yang menjelaskan tentang waktu akhir shalat Isya, bahwasanya waktu akhir shalat Isya adalah sampai pertengahan malam. Untuk lebih lengkapnya mengenai bantahan atas pendapat yang menyatakan bahwa waktu Isya berlanjut hingga terbit fajar kedua, maka dapat dilihat dalam Kitab Tamaamul Minnah hal. 141-142 yang ditulis As Syaikh Al Albani.

Wallahu a'lamu bisshawaab

Read more...

Hakikat umur

Sumber: Mawa'izh Lil Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 35

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

"Wahai anak Adam, (masa) siangmu adalah tamumu, maka berbuat baiklah terhadapnya. Karena sungguh, jika engkau berbuat baik kepadanya, niscaya dia akan pergi dengan memujimu. Dan apabila engkau berbuat buruk terhadapnya maka dia akan pergi dengan mencercamu, begitu pula dengan malammu."

"Wahai anak Adam, injaklah bumi ini dengan kakimu. Sungguh, sekecil apapun dia, pasti bakal menguburmu. Sesungguhnya engkau itu senantiasa sedang mengurangi usiamu, semenjak engkau dilahirkan dari perut ibumu."

"Wahai anak Adam, engkau dapati pagimu berada di antara dua waktu, yang keduanya tak mungkin meninggalkanmu, yakni bahayanya malam dan bahayanya siang. Sampai engkau mendatangi negeri akhirat, yang bisa jadi engkau datang ke al-jannah (surga) dan bisa jadi engkau ke an-nar (neraka). Maka siapakah yang lebih besar bahayanya daripada dirimu sendiri?"

"Wahai anak Adam, engkau hanyalah (laksana) hari-hari yang setiap kali berlalu satu hari maka hilanglah pula sebagian dari dirimu."

Read more...

Up and Down

>> Friday, April 01, 2005

Terkadang jalan yang kita lalui bisa terasa gersang, tandus, panas, kasar, terjal dan terasa begitu panjang.

Tapi diputaran berikutnya, bisa jadi kita sudah berada di jalan yang damai, hijau, sejuk dan tenang.

"Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah yang mencukupinya."
[Ath-Thalaq: 3]

Read more...

  © Blogger template by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP