Menu cainis nyu yier

>> Tuesday, January 31, 2006

Merayakan cainis nyu yier? ngga kok. Di Singapura ini cainis nyu yier udah seperti lebarannya kita aja. Orang-orang sibuk kunjung mengunjungi antar sodara dan teman, jadi praktis tidak ada toko (tepatnya tempat makan) yang buka selama 2-3 hari. Hohoho, ngga ada pilihan selain masak sendiri.

Tadaaa... hmm, lumayan hehe

Read more...

Akan tetapi urusan yang besar telah merisaukan mereka

>> Wednesday, January 18, 2006

Disalin dari buku:
Potret Kehidupan Para Salaf
Keteladanan Para Shahabat dan Tabi'in dalam Kehidupan Sehari-hari
Dr. Mustafa Abdul Wahid
Pustaka At Tibyan

Hasan Al Basri, seorang tabi'in yang agung berkata: "Sesungguhnya Allah memiliki hamba yang seakan-akan mereka melihat penghuni Naar yang disiksa didalamnya, hati mereka diliputi kesedihan. Mereka jauh dari kejahatan, jiwanya terjaga, kebutuhan mereka sedikit, mereka bersabar dengan kehidupan yang sementara demi kebahagiaan selamanya. Adapun waktu malam, telapak kakinya terpancang, air mata mengalir dipipinya, mengadu kepada Rabb mereka 'Rabbana...Rabbana...', adapun siang hari mereka adalah ulama hulama (ulama yang lemah lembut), berbuat baik dan bertakwa. Bila orang lain memandangnya akan menyangka bahwa mereka sedang sakit atau sedang bingung, padahal mereka tidak sedang sakit! akan tetapi urusan yang besar telah merisaukan mereka."

Ini adalah figur contoh bagi orang mukmin yang bertakwa, yang tertancap iman dilubuk hatinya, seakan-akan mereka melihat penduduk Naar yang sedang merintih dan meronta. Adakah orang yang melihat kenyataan yang mengerikan masih terbetik hatinya untuk berbuat jahat, meremehkan kewajiban, atau lupa akan tujuan ia diciptakan?

Alangkah cerdiknya mereka orang-orang yang takut terhadap berita yang telah dikabarkan Al Qur'an tentang azab yang pedih. Mereka memahami bahwa berita tersebut adalah peringatan bagi manusia disetiap tempat dan zaman. Agar mereka waspada dan ingat selagi masih hidup didunia, sebelum sampai masa yang tidak ada gunanya lagi penyesalan dan tidak pula diterima taubat (setelah mati).

"Dan mereka berteriak didalam naar: 'Wahai Rabb kami keluarkanlan kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang soleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.' Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun." [QS Fathir: 37]

Pengetahuan mereka (hamba-hamba yang bertakwa) akan hal itu menyebabkan lembutnya perasaan, jauhnya mereka dari dosa dan kejahatan. Mereka sebagaimana yang digambarkan oleh Al Hasan Rahimahullah: "hati mereka diliputi kesedihan dan mereka jauh dari kejahatan."

Maka barangsiapa yang takut kepada Allah maka ia tidak takut kepada selainNya karena ia selalu mengawasi dirinya sekalipun tak ada seorangpun yang melihatnya, karena ia selalu yakin akan pengawasan Allah dan ilmuNya terhadap apa yang terlintas dihatinya dan apa yang disembunyikan didadanya.

Dengan hal itu mereka menjaga kehormatan jiwa, merasa cukup, sedikit keperluan hidupnya, qana'ah, merasa kecukupan dengan sesuatu yang sedikit. Karena mereka faham bahwa itu hanyalah sebagai sarana dan bukan tujuan. Mereka mengambil sekedar apa yang bisa mencukupi keperluannya, tidak menyibukkan diri untuk memperbanyak dan membanggakannya karena mereka tahu dengan ilmul yaqin bahwa mereka akan meninggalkannya menuju ke tempat tujuan lain.

Betapa cemerlang buah pikiran orang-orang yang bertaqwa, betapa agungnya kemenangan yang mereka dapatkan. Sungguh mereka bersabar dengan kehidupan yang sementara demi kebahagiaan yang selamanya karena betapa berumur panjang tetap saja singkat, kendati lapang tetap saja akan terputus, hingga manusia benar-benar akan menyadari bahwa kehidupan dunia seakan-akan satu hari atau setengah hari saja!

Mereka beli kebahagiaan kekal dan kenikmatan abadi dengan bersabar beberapa hari saja, yang sangat singkat, dengan mencurahkan kesungguhan selama beberapa jam saja yang dapat dihitung. Berbeda dengan orang bodoh yang membuang bagian mereka diakhirat demi mengabdi kepada hawa nafsu yang tak terkendali dan syahwat yang buta. Dari sini nampaklah perbedaan dalam hal perilaku antara keduanya antara orang-orang yang lalai dengan suatu kaum yang telapan kakinya terpancang untuk sholat, mengabdi kepada Rabb mereka.

Mereka sibuk dengan urusan yang besar karena mereka tengah memiliki proyek besar yakni mempersiapkan diri untuk menghadapi pertemuan agung, yang setiap orang akan mendapatkan kebaikan atau kejahatan dari akibat apa yang telah ia perbuat, ia mengira kalau jarak antara dirinya dengan hari itu masih jauh.

Read more...

Anak adalah titipanNya

>> Monday, January 16, 2006

Jumat pagi, 13 Januari 2006, waktu belum menunjukkan pukul 7.00, sebuah sms saya terima: "Dam, anakku udah duluan dipanggil Allah, doakan aku sabar dan ikhlas ya. makasih atas semuanya, maaf udah ngerepotin."

innalillahi wa inna ilaihi raji'un

Dia adalah sahabat saya, ketika SMP sekelas dan sebangku, kami dekat sekali. Orang tuanya sudah seperti orang tua saya sendiri. Begitu juga dia, sudah menganggap orang tua saya seperti orang tuanya sendiri. 2.5 tahun di SMP kamana-mana bersama. Pulang sekolah, les, jajan, jalan-jalan, hampir semua.

Ketika SMA kami memilih untuk keluar kota, Solo menjadi pilihan kita. Tapi ia memilih SMA1, dan saya di SMA3. Namun begitu, tempat les kita sama. Pulang kampung setiap akhir minggu juga bareng. Jalan-jalan juga masih sering bersama. Juga dia yang mengajari saya naik motor dengan gagah berani diantara bus-bus yang besar (*saking beraninya sampai-sampai saya penasaran sama kerasnya sebuah mobil hartop nabrak mobil hartop yang ternyata keras banget bodynya).

Jaraklah yang memisahkan kami. Ia memilih kuliah di kota yang sama dan saya malah pergi jauh meninggalkan kampung halaman. Namun begitu tiap semester kita masih menyempatkan diri untuk saling ketemu, mengup-date semua yang kita alami masing-masing.

Alhamdulillah Juli 2003, ditahun-tahun terakhir kuliahnya, sahabat saya ini menikah dan tidak lama setelah itu, ia mengandung. Bahagia rasanya, keponakan pertama!

Ketika saya menikah, Juni 2004, sahabat saya ini sedang hamil besar. Seminggu setelahnya, ia melahirkan seorang bayi cantik. Farisa Zahra An Nafi', "supaya jadi wanita yang berguna kelak", katanya.

Setiap pulang liburan, saya selalu kangen sama Farisa. Cepat sekali pertumbuhannya. Maret 2005 saya ketemu, dia makin endut, sehat, lucu, dan tidak rewel. Mam, mammam, ta ta-ta-ta... baru kata-kata itu yang bisa diucapkannya. setiap diajak bicara selalu tersenyum lebar. Memang Farisa termasuk anak yang supel, mudah diajak main dengan orang yang baru dikenalnya.

Oktober 2005, ditengah-tengah Ramadhan, saya mendapat sms dari sahabat saya: "Dam, anakku di rumah sakit, kena leukemia. Tolong carikan info tentang cangkok sumsum tulang belakang di Singapore."

Sedih mendengarnya. Apalagi saya tau bagaimana sifat sahabat saya itu. Tegar, dewasa, pandai menutupi kesedihannya, selalu ceria.

Setelah mencari-cari di internet dan kirim email ke beberapa dokter di Singapore, info yang saya dapatkan tidak banyak membantu. Cangkok sumsum tulang disini bisa sampai 900an juta rupiah. subhanallah, mahalnya sebuah kesehatan.

November 2005, saya pulang kampung. RS Sarjito di Jogja menjadi salah satu tujuan utama. Dan siang itu, saya dan dia sama-sama menahan tangis, tapi ketika kami berangkulan erat, tangisnya pecah, lirih...dan sayapun tak kuasa untuk tidak menangis. Banyak dia bercerita siang itu. Saya hanya bisa melihat Farisa dari kaca, ia dengan tetap ceria, bercanda dengan ayahnya didalam ruang isolasi. Sesekali menangis sambil memegangi kepalanya.

"Farisa cuma bisa bilang: 'tit, tit' maksudnya 'sakit, sakit' setiap kali ia selesai di kemoterapi", kata sahabat saya. Sedih...

Sayapun kembali ke Singapore setelah liburan saya selesai. Kami masih sering sms-an.
"Gimana Farisa?", sms saya sore itu. "Alhamdulillah, membaik. Tapi masih belum bisa memproduksi sel darah, dokter masih mencoba terus. doakan aku optimis Dam," balasnya.
Lega mengetahui perkembangan Farisa membaik.

Lama setelah itu kami tidak saling meng-sms... dan sms pertama yang saya terima darinya setelah 1 bulan lebih adalah untuk mengabarkan kepergian Farisa. Pedih...

Read more...

Old folks home visit

Sabtu yang lalu kantor mengadakan acara Old Folks Home Visit, yang memang sudah menjadi agenda rutin setiap tahun. Tahun ini adalah kali pertama saya ikut (karena tahun sebelumnya sudah berhasil ngabur, kali ini tidak ada lagi alasan untuk mengelak :P).

Kami (sekitar 30an orang) mengunjungi Old Folks Home di daerah Newton Circus, masih lumayan jauh dari Newton MRT station. Tempatnya didaerah perbukitan yang lumayan sejuk, mungkin karena banyak pohon besar-besar. Jauh dari kesan "singapore banget", bangunannya tua, dikelilingi taman-taman yang asri penuh bunga warna-warni.

Acara dimulai pagi jam 9.30, diawali dengan kata sambutan dari koordinator acara, lalu dilanjutkan dengan performance singkat. Setelah itu kerja bakti bersih-bersih, nyapu, ngepel, mengelap jendela, dinding, atap, kipas angin, menyikat saluran air, mencabuti rumput-rumput liar di taman, bantu-bantu menyiapkan makan siang, dll. Dan akhirnya ditutup dengan menemani (baca: menyuapi) para old folks makan siang.

Agak sedikit kaget ketika pertama kali saya memasuki ruangan dan melihat para old folks (karena ini juga pertama kalinya saya ikutan acara beginian). Mereka ada sekitar 25an dan separoh lebih adalah wanita. Kondisi mereka begitu menyedihkan. Sebagian besar punya luka di kaki dan tangannya, terlihat dari balutan perban dimana-mana. Hampir semua sudah tidak bisa berbicara, melihat, makan, minum, apalagi berjalan dengan sempurna. Tapi jelas terlihat, mereka berusaha untuk masih bisa tersenyum, bahkan ada yang terbata-bata berusaha berkata "thank you", miris melihatnya.

Kebetulan saya berkesempatan menyuapi seorang nenek, Grace namanya. Sepertinya keturunan India. Rambutnya sudah putih semua dan dipotong pendek sekali. Ketika saya tawari suapan pertama, Grace melihat saya dengan pandangan yang dingin tanpa mau membuka mulutnya. *cemas* takut dia marah...untungnya seorang petugas datang dan membujuknya untuk mau makan. Akhirnya dibukalah mulutnya pelan-pelan tanda dia mau saya suapin. Petugas itu lalu mengatakan "Oh Grace...you are sooo clever". Lalu ia pergi sambil berpesan kepada saya "Be patient, she is very slow and has some trauma". Wadow, makin cemas...tiap kali saya sodorkan sesendok bubur, dia kembali melihat saya dengan pandangan yang dingin dan tajam, yang saya takutkan adalah jika tiba-tiba dia marah lalu ditumpahkan sendok atau piringnya. Tapi alhamdulillah, saya berhasil menyuapinya sampai habis. Total waktu: 1 satu jam, tidak kurang! Belakangan saya tau bahwa Grace memang yang makannya selalu paling lambat dibanding teman-temannya.

Sembari menyuapi, saya perhatikan Grace sambil mengira-ngira apa ya yang ada didalam pikirannya. Dia melihat orang disekelilingnya satu per satu, lama, kadang dia lupa mengunyah, kalau sudah bosan melihat-lihat, kembali dia mengunyah lagi, kadang terbatuk-batuk...semua gerakannya begitu pelan, sambil bergetar-getar. Saya lihat tangannya kurus sekali, seolah tinggal tulang dibalut kulit yang legam.

Beberapa pertanyaan memenuhi benak saya sejak saya melihat mereka ... mengapa mereka bisa sampai disini? kemana anak-anak mereka? kok tega ya seorang anak meninggalkan orang tuanya di sebuah panti jompo? atau mereka ngga punya anak? apa yang kakek-kakek dan nenek-nenek itu rasakan dan pikirkan? apa mereka sedih? atau malah bahagia berkumpul dengan sebayanya?

Ahh... semoga saya bukan termasuk orang-orang yang menyia-nyiakan orang tua.

"Artinya : Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda, "Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga" [Hadits Riwayat Muslim 2551, Ahmad 2:254, 346]

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam naik ke atas mimbar kemudian berkata, "Amin, amin, amin". Para sahabat bertanya. "Kenapa engkau berkata amin, amin, amin, Ya Rasulullah?" Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Telah datang malaikat Jibril dan ia berkata : 'Hai Muhammad celaka seseorang yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat kepadamu dan katakanlah amin!' maka kukatakan, 'Amin', kemudian Jibril berkata lagi, 'Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!', maka aku berkata : 'Amin'. Kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata lagi. 'Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya masih hidup tetapi justru tidak memasukkan dia ke surga dan katakanlah amin!' maka kukatakan, 'Amin'." [Hadits Riwayat Bazzar dalama Majma'uz Zawaid 10/1675-166, Hakim 4/153 dishahihkannya dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi dari Ka'ab bin Ujrah, diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 644 , Shahih Al-Adabul Mufrad No. 500 dari Jabir bin Abdillah]

Read more...

Just For Fun alias Iseng Saja

>> Sunday, January 08, 2006


Iseng-iseng jeprat-jepret di sekitar The Fullerton.
wehehe...keren juga ya, kaya siluet gituuu
apalagi ada cahaya matahari diatas gedungnya.

Read more...

Rainy Sunday

Beberapa hari ini Singapore diguyur hujan, bahkan yang terakhir sudah 1 hari 1 malam nonstop. Sesekali sangat deras, tapi lebih banyak rintik-rintik seperti saat ini, ...suka deh. Akibatnya perut jadi lebih sering kruyuk2.

Dingin-dingin gini enaknya makan apa ya...
Mumpung lagi niat, jangan ditunda2!
Bangun pagi, buka kulkas, yak...ayo masakkkk

Sup hangat ditemani sepiring bakwan goreng dan segelas milo (yang hangat juga)...hmmm uinuk tenan...



Read more...

  © Blogger template by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP