|
Friday, June 23, 2006 | 1:39 PM
Wirid Ibu Hamil
Info untuk sesama ibu-ibu hamil =)
Penulis: Ummu Abdillah Naurah binti Abdirrahman Penerbit: Pustaka Arafah
"Dalam buku ini, terdapat doa-doa penghilang rasa gudah, resah, murung, sedih dan takut. Selain itu, ditambah lagi dengan doa-doa yang bisa dipanjatkan ketika mengalami kesulitan dalam melahirkan. Demikian juga, terdapat doa dan dzikir untuk melindungi dan menjaga diri dari kejahatan setan dan bahayanya, serta dari hipnotis dan kejahatan orang yang mendengki.Oleh karena itu, kami wasiatkan agar kita semua banyak membaca doa-doa dan wirid ini pada pagi dan petang. Demikian pula, ketika terjadi rasa khawatir dan mengalami masa-masa kritis. Sebab, pengaruh dari doa-doa tersebut sangat kuat dan nyata." (Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin Anggota Dewan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia)
Labels: Kehamilan dan Perkembangan Anak, Resensi
posted by Ummu Khansa-Syifa
Thursday, June 22, 2006 | 11:21 PM
Feel good to be home
Alhamdulillah Selasa malam, 20 Juni kemaren kami sudah sampai di Singapore. Iya, memang sekarang rasanya Singapore sudah menjadi rumah ke-dua kami.
Senin siang kami berangkat dari Dresden jam 12.08 menuju Frankfurt dengan kereta. Dadah-dadah-an deh sama kamar yang ditinggalin disana...
Hall selama di Dresden (Hildebrandstrasse 7)

Pemandangan dari atas hall yang sempat diambil sebelum pulang
 
Dresden-Frankfurt ditempuh dalam waktu sekitar 5 1/2 jam, kira-kira jam 6 sore kita sampai di Frankfurt. Pesawat dari Frankfurt ke Singaporenya jam 23.55 malam, lumayan lama juga nunggu di bandaranya, sekitar 6 jam-an. Sampai Singapore jam 18.30 waktu Singapore, jadi kalau ditotal lebih dari 24 jam kami diperjalanan...teparrr banget.
Begitu keluar dari Changi...menghirup udara yang segar dan lembab rasanya nyamaaan banget, jadi bersyukur karena tinggal di daerah tropis. Jadi selama ini ngga nyadar kalau cuaca tropis seperti di Singapore dan Indonesia adalah nikmat yang besar? duhhh, manusia...manusia...baru bisa bersyukur atas suatu nikmat ketika nikmat itu dicabut darinya. Cuaca memang menjadi kendala paling besar buat saya selama tinggal di Dresden, pas spring cuaca di sana masih dingin, bisa sampai 5 degC, pas summer panasnya bisa sampai 32degC dengan perubahan yang drastis. Dan yang jelas humidity di sana rendah sekali, kulit rasanya kering, bibir bisa sampai pecah-pecah dan berdarah, kulit juga jadi bersisik dan perih. Ketika kita berjalan dibawah terik matahari, badan rasanya panas dalam karena ngga bisa keringetan. Apalagi disana air conditioner itu ngga populer seperti di Singapore, jangan harap ada AC di dalam bus atau trem, rasanya seperti diungkep (apa ya bhs Indonesianya) di dalam panci (emang pernah neng diungkep?), kebayang kan gimana panasnya.
Sampai di hall rasanya legaaa, akhirnyaa pulang juga, bisa denger lagi bahasa cang-cing-cung (ngga lagi bhs Jerman yang terdengar seperti tertahan ditenggorokan). Habis mandi langsung deh cabut ke Banquet-JP untuk makan malam...pastinya -korean spicy soup-...hmmm uinuuukk. Setelah 2 1/2 bulan makan masakan sendiri terus yang bumbunya itu-itu aja, korean spicy soup malam itu jadi dobel enaknya. Kalau diinget-inget, sebelum ke Dresden saya sering banget komplain tentang makanan-makanan di Singapore, yang ngga enak lah, yang berminyak lah, yang hambar lah, macem-macem. Tapi balik dari Dresden -again- baru menyadari bahwa kemudahan dan ketersediaan berbagai macam masakan halal di Singapore adalah nikmat yang amat besar. Udah ngerasain gimana susahnya nyari bahan makanan dan masakan halal di sana. Mungkin cuma masakannya orang Turki yang bisa kita beli di sana. Itupun hampir sama dengan makanan orang Jerman sendiri yang bahan utamanya adalah roti, daging, dan salad, cuma bedanya dagingnya halal.
Kebab Turki

Teman-teman Indonesia yang tinggal di sana pernah sharing soal ini, mereka sampai rela bela-belain bikin tempe, lontong, sate, mpek-mpek sendiri kalau lagi benar-benar kangen. Jangan heran kalau bapak-bapak di sana bisa bikin bakso gelindingan, masak kari ayam, rendang, rawon, otak-otak, dan masakan-masakan ribet lainnya. Kalo udah kangen ya gimana lagi...harus bikin sendiri, ngga mungkin dong balik ke Indo dulu, kata mereka. Dan hikmahnya, kita jadi nyadar dan menghargai gimana susahnya bikin makanan.
Selain hal-hal diatas, masalah waktu siang dan malam juga agak menjadi kendala. Siang hari di sana panjang nian ketika summer seperti sekarang, jam 4.30 pagi udah terang benderang dan baru gelap jam 10 malam. Maghrib jam 10 malam, isya jam 11.30 malam, subuhnya jam 2.30 pagi. Weleh-weleh...ngga kebayang kalau puasa di sana waktu summer. Waktu puasanya panjang saat cuaca sedang panas-panasnya. Badan juga rasanya gimanaa gitu, (kalau saya) badan baru bisa merasa benar-benar beristirahat ketika hari mulai gelap. Lha kalo jam 10 malam baru mulai gelap...ya agak-agak susah, waktu istirahatnya jadi lebih pendek. Lagi-lagi ditampar untuk bersyukur bisa tinggal di daerah yang waktu siang dan malamnya sama.
Nikmat lain yang paling kerasa adalah nikmat bisa tinggal di sebuah negri yang orang muslimnya banyak. Rasa tentram dan aman dikelilingi banyak saudara sesama muslim lah yang tidak bisa didapatkan di Dresden. Bahkan ngga jarang mendapat tatapan aneh dari orang-orang disekeliling, apalagi kalau di tempat umum. Kalau cuma tatapan aneh sih sebenarnya masih ngga masalah selama kita cuek aja, tapi kalau sampai keamanan yang terancam kan serem juga. Beberapa kali kami ketemu gerombolan pemuda dengan dandanan hitam-hitam, tato dimana-mana, rambut dimodel punk (rambut ada dibagian tengah dan dinaikin ke atas, kanan kirinya diplontos), bawa-bawa anjing gede-gede, ditangan kanan kiri bawa botol bir...sereeem. Munculnya bisa sewaktu-waktu, ngga cuma malam hari aja. Mereka inilah yang sering disebut dengan kelompok skin-head neo nazi yang benci dengan foreigner. Nah mereka-mereka ini yang harus diwaspadai.
Jadi kesimpulannya, saya jadi lebih menyukai Singapore dibanding sebelumnya (walaupun Indonesia tetep nomor satu dihati).
Malam pertama di Singapore badan rasanya capek ngga karuan, mata udah terpejam, tapi ngga bisa benar-benar tidur sementara suami sudah mimpi sampe Wonogiri. huaaa...jadi gini rasanya dilanda jetlag...hiks. Guling kanan, guling kiri, duduk, bangun, ngemil, nge-internet...hhh, akhirnya jam 5 pagi baru bisa tidur....rrrrr...enaknyaaa. Alhamdulillah hari keduanya sudah bisa dijalani dengan normal. Labels: Umum
posted by Ummu Khansa-Syifa
Thursday, June 15, 2006 | 6:14 PM
Jalan-jalan (Meissen, Moritzburg, Bastei)
3. Meissen, Moritzburg, Bastei, 5 Juni 2006 Sepulang dari Berlin baru deh kerasa pegel2nya. Kaki sampe sakit buat jalan, asli. huhuhu. Tapi lumayan, setelah diurut2 dan istirahat seharian dihari Minggu, semangat buat jalan-jalan kembali lagi. Kebetulan hari Senin, 5 Juni nya libur juga. Jadi kita memutuskan untuk memanfaatkan waktu yang ada; tapi kali ini jalan-jalannya masih dipropinsi Sachen aja (propinsi yg di-ibukota-i oleh Dresden), ngga jauh-jauh. Rute perjalanannya dimulai dari Meissen lanjut ke Moritzburg dan ditutup dengan Bastei.
Dresden-Meissen ditempuh cuma dalam waktu 1/2 jam. Begitu sampai Meissen tujuan pertama kita adalah ke pabrik porselain tertua di Eropa, "Meissen Porzellan Manufaktur". Katanya keramik Meissen ini memang terkenal, ada yang pernah denger? lambangnya 2 pedang. Saya sih baru-baru ini aja dengernya. Pabriknya gede dan memang dijadikan objek wisata. Mereka punya museum keramik yang men-display keramik-keramik buatan Meissen sejak abad 17 sampai sekarang. Ternyata gaya keramik Eropa beda sama gaya keramik Cina (ya iya lah).
 Selain itu, disana kita juga bisa ikutan workshop sekitar 1 jam-an dengan biaya EUR 4/org untuk student. Selama workshop kita bakal diputerin video ttg sejarahnya keramik Meissen dan ditunjukin cara bikin keramik mulai dari cara mencampur bahan baku sampai tahap akhir polishing. Wah seru, sampai terkagum-kagum melihat cara pembuatannya, benar-benar handmade dan berkualitas tinggi. Orang-orang yang bekerja disana juga para ahlinya. Bahkan peramuan bahan bakunya melibatkan banyak scientist seperti chemist, mathematician, dan geologist. ck ck ck. Dengan ikutan workshop itu kita jadi bisa appreciate dan ngga heran lagi kenapa harga mug kecil bisa sampai ratusan EURO. Setelah puas menikmati keramik, kita lanjut jalan ke pusat kota Meissen. Meissen ini kotanya kecil banget. Bangunan-bangunannya berdempetan, jalannya dari batu-batu besar yang disusun rapi, bukan aspal, trus disepanjang jalan banyak toko-toko kecil dengan etalase yang unik. Kalau kita jalan di gang-gang serasa ada di film "chocolat". Ini beberapa snap shot pusat kotanya Meissen.
 Di Meissen ada Schloss juga, namanya "Albrechtsburg Schloss". Ini adalah schloss pertama yang dibangun di Jerman. Gaya bangunannya gaya gothic. Di schloss inilah dulu para penemu keramik meissen tinggal dan bereksperimen...katanya...hehe.
 Habis dari Meissen kita lanjut ke Moritzburg naik kereta selama 1 jam-an. Moritzburg ini terkenal dengan scholss/palace nya juga. Tempatnya dikelilingi oleh danau yang membuat bangunannya menjadi elegan. Katanya schloss ini dibangun sekitar abad ke 16, tapi pada abad ke 18 tempat ini di-remodel menjadi sebuah schloss untuk para raja yang suka berburu, makanya disebut juga dengan "Hunting Schloss". Didalamnya dihiasi dengan lukisan-lukisan dan koleksi tanduk rusa hasil berburu. Di bagian belakangnya ada taman yang luas dan asri disekitar danau. Kaya banget ya raja yang punya schloss ini dulu.
 Hari itu di Moritzburg lagi rame, banyak turis. Di luar halaman banyak cafe-cafe yang jual es krim dan makanan ringan. Ada juga orang-orang yang menyewakan kereta kudanya untuk berkeliling kota. Serunya, si sopir dokarnya pake baju jaman dulu, apalagi ibu-ibunya, pake baju yang roknya panjang dan menggembung, trus pake topi berenda yang talinya diiket ke dagu. hehe.
Karena hari masih terang, kita lanjutkan lagi perjalanan ke "Kurort Rathen", sebuah desa kecil yang terkenal dengan "Bastei Bridge" nya. Dari Moritzburg kita harus balik dulu ke Dresden baru ke Kurort Rathen. Dari Dresden kira-kira 45menit-an. Bastei ini adalah sebuah jembatan yang menghubungkan rangkaian gunung-gunung batu yang unik. susah dijelaskan dengan kata-kata, liat foto-fotonya aja yah. Subhanallah indah banget disana.
 Dari stasiun kita harus menyeberangi sungai kecil naik kapal motor (EUR 1.3/org) selama sekitar 5 menit. Trus harus naik-naik ke puncak gunung melewati hutan. Saya sih ngga sampe puncak, nunggu dibawah aja. Suami naik sendiri berbekal kamera untuk mengabadikan pemandangan yang bener-bener indah ini. Diatas gunung ada hotelnya lho, hmm kayanya bakal mahal banget kalo mau nginep disana. Pemandangannya bener-bener menarik dan medan yang ditempuh untuk kesana ngga gampang. Niat ya sampai mau bangun hotel dipuncak gunung batu. hehe.
 Turun gunung udah sekitar jam 9an malam, tapi masih terang lho karena sudah masuk summer. Trus kita langsung pulang ke Dresden. Lagi-lagi capek, tapi seneng =)
Labels: Umum
posted by Ummu Khansa-Syifa
| 5:23 PM
Jalan-jalan (Berlin)
2. Berlin, 3 Juni 2006 Dengan berbekal weekend tiket yang murah meriah (disini kalo weekend harga tiket keretanya jadi murah lho ke seluruh Jerman, yang hari biasa EUR 48/org, kalo weekend bisa jadi EUR 30 untuk 5 org), peta kota Berlin, dan info singkat mengenai tempat-tempat menarik di Berlin dari seorang teman, kita berangkat dari Dresden hari Sabtu pagi-pagi banget, kereta jam 6an. Menurut jadwal, perjalanan ke Berlin memakan waktu sekitar 3 jam dengan 1x transit di kota kecil namanya Elsterwerda. Diperjalanan sempat bingung-bingung dikit karena ada perubahan jadwal kereta di Elsterwerda; kereta yang harusnya kita naikin rusak, jadi harus nunggu kereta berikutnya yang lewat Berlin juga tapi jalurnya beda. Tapi nyampe juga di Berlin sekitar jam 9.30an walaupun bukan di stasiun yang udah dijadwalkan.
Dari stasiun Friedrichstrasse kita langsung jalan menyusuri kota Berlin yang masih sepi karena masih pagi ke "Branderburger Tores" . Ini bangunan semacam gate peninggalan tahun 1700an dengan dekorasi Yunani. Katanya sih ini awalnya sebagai simbol perdamaian. Setelah Jerman barat dan timur bersatu, bangunan ini akhirnya dijadikan simbol persatuan Berlin/Jerman. Kebetulan disekitar situ lagi banyak dekorasi2 world cup, di depannya ada bola raksasa yang di permukaannya ada gambar peta dunianya, di belakangnya lagi ada panggung gede, mungkin bakal untuk nonton bareng piala dunia.
 Dari situ kita jalan lagi menyusuri bekas "Berliner Mauer" alias tembok Berlin yang memang ada disekitar branderburger tores. Temboknya udah dihancurin rata ama tanah tahun 1989, tapi bata-bata yang jadi pondasinya tetep ditinggalin, jadi kita bisa lihat bekasnya. Bekas tembok Berlin ini melewati daerah yang sekarang jadi pusat kota dengan arsitektur abad 21 namanya "Postdamer Platz". Nah disini ada tembok yang masih utuh tingginya tapi lebarnya cuma sekitar 1 m, sengaja dibiarkan berdiri untuk kenang2an kali ya.
 Habis itu perjalanan di lanjutkan ke "Zoologischer station" yang dideket situ kita bisa lihat "Gedaechtniskirche" alias gereja buntung. Ini katanya peninggalan tahun 1800an. Dinamain gereja buntung karena menaranya buntung gara-gara dibom waktu perang tahun 1943. Kita cuma foto dari jauh aja soalnya waktu itu mulai hujan gerimis. Trus jalan lagi ke stasiun kereta yang hampir ujung, "Olympia stadion", niatnya mau liat stadionnya piala dunia. Ternyata sampai sana stadionnya ditutup pagar besi dari jarak 1kilo-an dari pintu masuk. huhuhu.  Ya akhirnya foto2nya dari balik pagar aja. Karena suami masih aja penasaran pengen mendekat, kita coba susuri pagarnya yang melingkar siapa tau bisa lebih melihat kedalam, ternyata ngga membantu juga.
Setelah istirahat bentar n makan siang, perjalanan di lanjutkan ke "Gendarmenmarkt". Menurut sejarah, kompleks ini didirikan pada abad ke 17 sebagai sebuah pasar, namanya Linden markt; dan katanya dari sisi keharmonisannya komplek ini adalah yang komplek yang terindah di Eropa. Komplek ini juga hancur ketika perang dunia ke 2. Komplek ini terdiri dari 3 bangunan utama: "Konzerthaus", ada ditengah dan diapit oleh 2 bangunan yaitu "Deutscherdom" (German cathedral) dan "Franzosischerdom" (French cathedral) yang berhadap-hadapan. Karena deutscherdom dan franzosischerdom ini bangunannya identical, makanya sering disebut juga dengan twin church. Yang paling baru adalah konzerthaus, dibangun pada tahun 1800an, ketika deutscherdom sedang direkonstruksi. Ditengah-tengah kompleks ada statue-nya Friedrich Schiller, seorang penyair Jerman yang katanya sih terkenal. 
Setelah itu kita langsung ke "Checkpoint Charlie". Tempat ini bentuknya cuma kaya gardu pos yang dulunya dipakai buat me-register orang-orang dari Jerman Barat yang mau masuk ke Jerman Timur waktu Jerman udah kalah dan jadi rebutan antara Amerika, Inggris, Belanda, ama Rusia.
Disekitar situ ada "Museum Berlin Mauer" yang isinya bekas2 sejarah tembok Berlin, didalamnya banyak dipajang sisa2 tembok Berlin. Disepanjang trotoarnya banyak juga yang jual pernak pernik tentara (nazi, amerika, rusia, dll).
Setelah puas liat2 di checkpoint charlie dan hari udah mulai sore, kita lanjut jalan ke "Berlin Hauptbanhof", stasiun utama di Berlin, untuk memastikan jadwal kereta balik ke Dresden.

Setelah semua ok, sambil nunggu kereta yang masih lumayan lama, kita sempetin jalan ke "Reichtag". Ini gedung parlemennya Berlin. Disini kita bisa naik ke atapnya yang berbentuk bulet/dom, untuk melihat para anggota parlemen bersidang. Untuk naik ke dom ini antriannya puanjanggg, jadi kita ngga sempet naik deh. Wah kalo diIndo dibikin ginian kita bisa ngintip anggota parlemen yang tidur saat sidang ya...upss. 
Dari reichtag kita langsung balik lagi ke hauptbanhof. Pas banget waktunya, nyari-nyari souvenir bentar, beli bekal untuk makan dikereta trus pulang menuju Dresden. Berlin yang gede banget itu ternyata ngga bisa dicover dalam 1 hari, masih banyak tempat2 menarik lainnya yang ngga sempat kita kunjungin. Kalau sempat pengen sebenernya ikutan historical tour ke tempat2 bekas nazi. Kapan ya kesana lagi, hehe.
Capek bow, tapi seruuu. Labels: Umum
posted by Ummu Khansa-Syifa
Tuesday, June 13, 2006 | 7:58 PM
Jalan-jalan (Pillnitz)
Alhamdulillah suami sudah menemani di Dresden sejak 26 Mei kemarin. Cuaca juga sudah mulai hangat. So...agendanya adalah jalan-jalan. horee. ok, special buat Te poi n Te Gi2, ini liputan jalan-jalannya (foto2 selengkapnya tunggu kita sampe Sgp yah).
1. Pillnitz, 27 Mei 2006 Pillnitz ini masih di dalam kota Dresden, cuma 20 menit dari pusat kota. Disana ada Schloss yang terkenal juga. Schlossnya sendiri ada ditengah-tengah sebuah taman/hutan yang luas yang dipagarin tinggi dari luar. Karena schlossnya ngga kelihatan dari luar dan petunjuk jalannya dalam bahasa Jerman, agak kesulitan juga kita nyarinya.
Castle ini dibangun oleh kaisar August the Strong pada abad ke 18. Dulunya dipakai sebagai simbol pintu masuk yang romantis oleh keluarga kerajaan Sachen. Gedungnya unik, perpaduan antara arsitek gaya barok dan gaya timur jauh. Atapnya seperti gaya-gaya bangunan Jepang/Cina yang ada melengkung-melengkungnya (seperti pagoda). Karena itulah castle ini juga disebut dengan "Indianisches Palais". Didalamnya sekarang dijadikan museum yang mengkoleksi peninggalan-peninggalan seni sejak abad ke 13-20.
 Taman-taman disekelilingnya bagus dan asri, banyak bunga warna-warni dan ada air mancurnya. Hutannya penuh dengan tanaman-tanaman eksotis yang dikasih nama satu-satu. Selama kita jalan, sering terlihat tupai merah lagi nyebrang, hehe.
Di belakang castle mengalir sungai Elbe, dan diseberang Elbe ada banyak rumah-rumah desa yang khas, bentuknya kotak-kotak. Dari bangunan belakang yang memang ada tempat untuk masuknya kapal (dibangun tangga menuju Elbe), kita bisa menyeberangi Elbe naik perahu motor kecil. Kayanya seru juga menyusuri Elbe didesa PIllnitz naik perahu...Labels: Umum
posted by Ummu Khansa-Syifa
Monday, June 12, 2006 | 3:03 PM
Buah hati yang di nanti
23-weeks Hidung dan bibir mungilnya sudah kelihatan =)
 Labels: Kehamilan dan Perkembangan Anak
posted by Ummu Khansa-Syifa
|
About
Ummu Khansa-Syifa
Singapore
YM: martina_damayanti
Abu Khansa-Syifa

Recent Post
Silaturrahim
Categories
Links
Archives
|