Mengingat Mati

>> Tuesday, February 27, 2007

24 Feb 2007, pagi waktu subuh hp suami berbunyi... sebuah sms dari adik di rumah "Innalillahi wa innailaihi raji'uun, om Haryo meninggal dunia."

Om Haryo, seorang dokter spesialis syaraf yang masih relatif muda, dengan 3 orang anak, usianya belum lagi 50 tahun. Orangnya baik, ramah, down to earth dan lucu. Tinggalnya persis di sebelah rumah di Wonogiri. Terakhir kami ketemu dengan beliau kira2 lebaran, Oktober 2006, yang lalu waktu beliau sekeluarga silaturahim ke rumah sekalian nengokin Khansa. Saat itu beliau tampak sehat dan memang sejauh ini katanya ngga ada riwayat sakit (emangnya kalau meninggal harus sakit dulu? Subhanallah, Maha Suci Allah... Allah Maha Berkehendak). Sekarang sudah meninggalkan dunia lebih dulu dari kita. Meninggalnya pun di Bandung dalam rangka kondangan ke nikahan saudaranya...

Sempat terdiam sejenak waktu mendapat berita itu.

Kematian... bisa datang kapan saja, kepada siapa saja...
Lagi2 diingatkan... masih mau menyia2kan waktu?

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati." (Ali 'Imran: 185)

"Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari dari padanya." (QS: Qaaf: 19)

"Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan (maut)" (HR: At-Tirmidzi, hasan menurutnya).

Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma pernah berkata, "Aku pernah menghadap Rasululloh shallallahu 'alaihi wasallam sebagai orang ke sepuluh yang datang, lalu salah seorang dari kaum Anshor berdiri seraya berkata, "Wahai Nabi Alloh, siapakah manusia yang paling cerdik dan paling tegas?" Beliau menjawab, "(adalah) Mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah manusia-manusia cerdas; mereka pergi (mati) dengan harga diri dunia dan kemuliaan akhirat."
(HR: Ath-Thabrani, dishahihkan al-Mundziri)


Jadi ingat kata2 bijak di www.muslim.or.id yang mengingatkan kita untuk bertaubat; taubat dari maksiat, taubat dari rasa malas ...

Penyesalan, kesedihan, duhai… jiwa yang terdampar
Di pulau asing dan terjerumus di jurang kelalaian, kemalasan

Berdiri dan tataplah langit
Tengoklah ke sebelah kanan dan kirimu
Apakah yang belum engkau raih

Bukankah selama ini engkau telah mengenyam berjuta-juta nikmat
Oksigen gratis
Cahaya dan panas matahari cuma-cuma
Air yang terus memancar dari dalam perut bumi
Tanpa perlu kau tukar dengan uang sepeserpun juga

Duduklah dan renungkan
Apa yang selama ini kamu lakukan
Beramal dengan ikhlas ataukah hanya sekedar mencari pujian
Pujian dari manusia dan ketenaran di tengah-tengah mereka

Apakah engkau pernah menghitung
Berapa kali engkau terjatuh dalam maksiat
Secara sadar maupun yang kau anggap perkara
Yang biasa dan sepele, toh banyak orang
Yang juga melakukannya

Maha suci Allah !!!
Al Qur'an ada di atas mejamu
Buku-buku agama bertumpuk di sekelilingmu
Alunan suara para qari' senantiasa terdengar di kanan dan kirimu

Masihkah engkau tak bergeming
Dengan noda-noda hitam di dalam lubuk hatimu
Ranjau-ranjau maksiat itu akan segera membinasakanmu
Sadarilah, apa lagi yang kau tunggu

Apakah kau menunggu malaikat maut
Menjemput dan memaksamu

Saudaraku, singsingkan lengan bajumu
Tataplah masa depan
Berharaplah kepada kemurahan Ar Rahman
Marilah kita kembali tunduk kepada-Nya
Mumpung pintu taubat masih terbuka dan memanggil-manggil
Kita yang penuh salah dan dosa

Rasulullah saja, makhluk termulia
Dalam sehari bertistighfar 100 kali kepada-Nya
Lalu siapakah kita
Apabila dibandingkan dengan seorang manusia
Paling mulia di atas jagad raya
Seperti beliau shallallahu 'alaihi wa sallam

Akankah taubat itu kita tunda-tunda
Jangan,
sebab semakin kau tunda
Maka penyesalan itu akan berubah menjadi bencana
Siksaan berlipat ganda di dalam neraka
Sampai si durhaka berkata
Duhai, seandainya aku dulu hanya
menjadi sebongkah tanah saja

Read more...

Nasihat Memilih Istri

>> Friday, February 23, 2007

Dari blognya Muti

Sedih aku. Kenapa ada ikhwan yang menolak akhwat hanya gara-gara fisik?! Padahal akhwat itu baik, cerdas, faham agama pula. Pokoknya insya Allah ia sholihah, tapi kenapa ada ikhwan yang menolaknya hanya gara-gara dia tidak cantik?!

Mereka, para ikhwan yang mementingkan kecantikan itu, mungkin beralasan dengan berkata bahwa cantik kan termasuk di dalam syarat-syarat wanita untuk dinikahi?! Mereka pun mungkin akan bilang bahwa haditsnya shahih lho! Tapi sayang, mungkin mereka nggak baca sampai akhir kalimat bahwa memilih wanita yang baik agamanya itu lebih selamat!

Mereka mungkin terus bilang, kalau mencari istri yang baik agamanya yang kebetulan cantik boleh khaaan?! Ya memang boleh, tapi pas kebetulan nggak cantik langsung di tolak khaaan?
***

Ah, andai saja mereka tahu bahwa di zaman sekarang ini orang yang kaya itu akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin. Dan istri yang hebat di zaman ini adalah yang sanggup hidup miskin. Dan istri yang bijak di zaman ini adalah yang sanggup hidup kaya. Semua kan bisa bilang 'saya siap hidup susah' tapi dia nggak akan sanggup kalau nggak hebat. Semua juga siap hidup enak tapi dia akan bangkrut kalau nggak bijak.

Andai saja mereka tahu bahwa istri yang hebat dan bijak itu hanya ada pada istri yang sholihah. Dia lah yang qanaah, yang sanggup hidup dalam keadaan apapun yang diberikan suaminya kepadanya. Dia akan merasa cukup atas apa yang ada. Dan akan bersyukur atas kehidupan yang menyenangkan seperti dia akan bersabar atas kehidupan yang menyusahkan.
***

Mungkin para ikhwan itu hanya memaknai wanita yang baik agamanya itu sebagai wanita yang pakai jilbab panjang dan manis kalau tersenyum. Yang mungkin dari jilbab wanita tersebut mereka bisa menilai bahwa ia faham agama, dan dari senyumannya mungkin mereka bisa menilai bawa ia baik akhlaknya. Tapi mereka tidak tahu bahwa panjangnya jilbab dan manisnya senyuman hanyalah apa yang tampak di luar, sedangkan yang tidak tampak akan mereka ketahui setelah menikah.

Mereka akan tahu istri mereka sebenarnya ketika mereka sudah serumah dengannya, bukan di rumah orang tua ataupun di rumah mertua. Karena di rumah sendiri akan tampaklah seorang istri itu sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai anak orangtuanya yang manja dan selalu diturutkan keinginannya, ataupun sebagai menantu yang rajin dan akan selalu menampakkan kebaikan kepada mertuanya.

Mungkin sebaiknyalah orang-orang yang sudah menikah itu tinggal di rumahnya sendiri, walaupun harus kontrak atau kredit. Karena di rumah itu akan tampaklah sifat asli istri dalam menyikapi hidup yang diberikan suaminya kepadanya. Mereka akan tahu apakah jilbab isteri mereka membuktikan kefahamannya dalam agama, dan apakah manis senyuman mereka membuktikan kebaikan akhlaknya. Tetap dia pakaikah jilbab yang panjang itu ketika terik matahari panas menghujam?! Tetap adakah senyuman manis itu ketika lebat turunnya hujan?
***

Isteri yang sholihah, dialah yang qanaah.
Yang tahu hari tak selalu cerah tapi dia tak berubah.

Istri yang sholihah itu tidak harus kaya, kalau pun kaya Alhamdulillah.
Dia juga tidak harus cantik, kalau pun cantik itu hadiah.

Isteri yang sholihah itu adalah yang qana'ah, senangnya berada di rumah.
Keluar rumah hanya untuk belanja atau pergi bersama suaminya.
Dia tahu bahan makanan telah mengalami kenaikan harga,
dan tidak menyusahkan suaminya dengan segala tuntutannya.

Ada juga memang wanita yang bekerja di luar rumah,
tapi yang sholihah, dia mau berhenti kerja kalau suaminya memerintahkannya,

dan tetap bekerja kalau suaminya meridhoinya.
***

Kau mungkin bingung bagaimana mungkin mendapatkan wanita shalihah sementara sedari tadi aku terus berkata yang shalihah adalah yang qanaah, sedangkan qanaah itu tidak tampak di mata.

Yang jelas, nggak usah muluk-muluk cari yang cantik,
karena yang cantik seperti bintang di langit.
Mungkin dia mudah ditemukan, bahkan di gelap malam,
tetapi sadarilah dia tak mudah dijangkau tangan.

Ketika itu pun kau mungkin melihatnya berkilauan,
tetapi sadarilah ketika siang dia menghilang.

Isteri yang sholihah itu seperti mutiara di dasar laut,
tak selalu putih terkadang terbungkus lumut.
Di dalam cangkangnya dia senang berada,
menjaga diri dan tak mudah digoda.

Kau mungkin harus menyelam untuk menemukannya.
Tapi kau akan tahu seberharga apa dia ketika kau mendapatkannya.

"Tiada kekayaan yg diambil seorang mukmin setelah takwa kepada Allah yang lebih baik dari istri sholihah.” [Hadits Riwayat Ibn Majah]
-Mutiara-
yang berusaha menjadi seberharga namanya…

Read more...

Dimurkai ataukah sesat?

>> Thursday, February 22, 2007

sumber: www.muslim.or.id

"Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan(pula jalan) mereka yang sesat." (QS. Al Fatihah: 6-7)
Ibnu Katsir rahimahullah (Tafsir Ibnu Katsir 1/29) tatkala menafsirkan dua ayat ini berkata,

"Jalan orang-orang yang telah Engkau limpahkan kepada mereka kenikmatan, yang telah disebutkan kriterianya, yaitu orang-orang yang mendapat petunjuk, beristiqomah, senantiasa ta'at kepada Allah dan Rasul-Nya dan yang senantiasa menjalankan perintah dan menjauhi segala larangannya.

Jalan tersebut bukanlah jalan orang-orang yang dimurkai, yaitu orang-orang yang telah rusak jiwanya, sehingga mereka mengetahui kebenaran akan tetapi mereka berpaling darinya.

Tidak juga jalannya orang-orang yang tersesat, yaitu orang-orang yang tidak berilmu, sehingga mereka terombang-ambingkan dalam kesesatan dan tidak dapat mengetahui kebenaran."

Bila kita renungkan keadaan umat Islam sekarang ini, maka kita akan dapatkan bahwa kebanyakan pada mereka terdapat satu dari dua perangai di atas:
  1. Mengetahui kebenaran akan tetapi dengan sengaja berpaling darinya, karena mengikuti bisikan hawa nafsu dan ambisi pribadinya.
  2. Tidak mengetahui kebenaran, sehingga kehidupannya bagaikan orang yang sedang hanyut dan diombang-ambingkan oleh derasnya arus badai, sehingga ia berpegangan dengan apa saja yang ada di sekitarnya, walaupun hanya dengan sehelai rumput atau sarang laba-laba. Ia tidak mengetahui kebenaran yang diajarkan oleh Al Qur'an, sehingga ia hanyut oleh badai kehidupan, dan akhirnya mengamalkan atau meyakini apa saja yang ia dengar dan baca.

Semoga kita termasuk orang2 yang mendapat petunjuk dan istiqomah didalam petunjuk itu. amin...

Read more...

Menyemat Cinta di Hati Kekasih

>> Friday, February 16, 2007

Diambil dan diringkas dari tulisan Ummu Raihanah
http://jilbab.or.id


Ia adalah bagian dari tulang rusukmu
Ia adalah belahan jiwamu
Ia adalah tawanan di tanganmu
Padanya sumber ketenangan, cinta kasih dan ketentraman
Karena demikanlah Allah menciptakannya untukmu
Ia adalah pakaian bagimu
Dan yang terutama dan utama ia adalah amanah yang Allah berikan untukmu…
Bagaimanakah engkau memperlakukan amanah itu ???

Islam membela kaum wanita, memuliakan dan mengangkat derajat mereka. Wanita adalah orang yang di sucikan, ibu para ulama, ibu para panglima, dan ibu para pembesar. Bukankah ia adalah ibu Umar, ibu Anas, ibu Umar bin Abdil Aziz, ibu imam Ahmad, ibu imam Syafi’i, ibu Shalahudin, ibu Ibnu Taimiyah, ibu Ibnul Qayyim dan yang lainnya ?

Mari kita mengambil pelajaran dari sumber teladan kita Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam. Beliau adalah manusia yang paling sibuk diatas muka bumi pada waktu itu. Beliau memiliki lebih dari 4 orang istri, dan lihatlah dalam sejarah adakah diantara istri-istrinya lepas dari pengawasan beliau? Adakah yang mengeluhkan tentang kesibukan beliau?


  1. Beliau shalallahu alaihi wassalam ditimpa berbagai macam persoalan umat dan masalah yang sekiranya diletakkan (dibebankan) kepada banyak orang, niscaya mereka tak akan sanggup mengembannya. Tapi lihatlah ketika sahabat bertanya kepada Aisyah radhiyallahu anha: "Bagaimana sikap Rasulullah bila menemui kalian?" Ia menjawab: "Beliau masuk dengan tertawa dan tersenyum."

    Seakan tidak ada beban di pundak beliau yang mulia, seakan beliau tidak memiliki beban dan persoalan yang berat. Sehingga istri-istri beliau merasa nyaman dan senang bercanda dengan beliau.

  2. Dalam kitab Bukhari bab Al-Adab, Zaid bin Tsabit berkata tentang Rasulullah: "Suka bercanda dengan istrinya, dihormati diluar rumah."

  3. Rasulullah telah bersabda: "Sesungguhnya istrimu memiliki hak atasmu." (HR Muslim 3652, Ahmad 26917, Abu Dawud 2285)

  4. Sebagaimana yang dikumandangkan oleh beliau pada haji Akbar (dalam hadits yang sangat panjang) yaitu ketika mengumumkan hak-hak wanita dan hak seluruh manusia, Beliau shalallahu'alaihi wa sallam bersabda: "Allah, Allah, pada wanita karena mereka itu adalah tawanan disisi kalian. Dan saling berpesanlah agar berlaku baik terhadap wanita." (HR Tirmidzi, hasan shahih)

  5. Adalah Aisyah ketika ditanya tentang perilaku Rasulullah yang paling membekas dan berkesan dikalbunya sepeninggal beliau maka ia hanya mampu meneteskan airmata seraya berkata: "Semua sikap dan perilakunya mengesankan bagiku (kaana kullu amrihi 'ajabani)."

    Bagaimana tidak Rasulullah seakan selalu punya waktu untuknya. Rasulullah pernah mengajaknya berlomba lari, beliau Shalallahu alaihi wassalam pernah kalah dan pada kesempatan yang lain beliau memenangkannya sehingga beliau tertawa seraya berkata: "Ini adalah pembalasanku dari kekalahanku yang dulu."

  6. Dari Abu Hurairah, dia berkata Rasulullah bersabda: "Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik diantara kalian ialah yang paling baik terhadap istrinya." (HR Tirmidzi, Ibnu Hibban, hadits hasan shahih)

    Dalam suatu lafazh dari hadits Aisyah di sebutkan: "Yang paling lemah lembut diantara mereka terhadap keluarganya." (HR Tirmidzi dan Hakim)

    Dalam riwayat lain, juga dari Aisyah disebutkan: "Yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik di antara kalian kepada keluargaku." (HR Ibnu Hibban dalam kitab Sahihnya)

  7. Dari Muawiyah bin Haidah dia berkata: "Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah apa hak istri salah seorang diantara kami atas dirinya?' Beliau menjawa: 'Hendaklah engkau memberinya makan jika engkau makan, memberinya pakaian jika engkau mengenakan pakaian, janganlah memukul muka, janganlah engkau berdoa agar Allah memburukannya dan janganlah engkau menghindarinya kecuali di dalam rumah'." (HR.Abu Dawud dan Ibnu Hibban)

  8. Dan juga sabda beliau: Dan berlemah lembutlah terhadap wanita." (HR. Bukhari 6018,6059,6066 dan Muslim 5989, 5992)

Wahai para suami, setiap rumah tangga tentu mempunyai problema, karena memang demikianlah sebagai ujian dan cobaan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Sebagai seorang suami dan kepala rumah tangga dituntut untuk pandai dan cermat menyiasati apa yang terjadi diantara hubungan mereka berdua. Kelapangan hati untuk meredam emosi akan membawa pada kebaikan dan keindahan. Kehalusan sikap akan mencairkan hati yang beku dan melunakkan gunung yang keras.

Lihatlah bagaimana Rasulullah dalam menghadapi kemarahan Aisyah, beliau justru tersenyum menghadapi hal itu dengan penuh kesabaran dan keagungan.

Atau engkau bisa melihat kepada Umar bin khattab amirul mukminin ketika sahabat datang ingin mengadukan perihal istrinya justru ia mendapati suara istri Umar lebih tinggi dan nyaring dibandingkan dengan suara Umar. Karena Umar adalah seorang yang bijak, maka ia berkata: "Kehidupan itu harus ditempuh dengan cara yang ma'ruf. Ia adalah istriku. Ia membuatkan untukku roti, mencucikan pakaianku dan melayaniku. Jika aku tidak berlemah lembut padanya maka kami tidak akan hidup bersama."

Tidakkah engkau menyimak perkataan Umar? Semoga Allah meridhainya beliau adalah seorang Amir al-Faruq yang tegas dan berwibawa yang ditakuti musuh-musuhnya bahkan iblis pun takut berpapasan dengannya. Lihatlah bagaimana ia lemah lembut dan mengalah terhadap kemarahan istrinya.

Atau sejenak engkau berkaca pada Ali bi Abi Tholib, dalam hadits shahih, Rasulullah datang kerumah Fatimah putrinya untuk menanyakan padanya tentang Ali radhiyallahu anhu. Lalu Fatimah radhiyallahu anha menjawab: "Aku telah marah padanya sehingga ia keluar." (HR. Bukhari no.436 dan Muslim no.6182). Ali memilih keluar daripada bersitegang dan bertengkar dengan istrinya.

Duhai para suami tercinta, engkau berharap istri-istrimu mencintaimu dengan sepenuh hati. Engkau meminta mereka untuk setia dan taat kepadamu. Engkau meminta mereka agar bakti dan kasihnya tercurah padamu. Engkau mendambakan agar mereka merindukanmu ketika jauh darimu, namun...sudahkah engkau senyematkan cinta kasih dihati istri-istrimu?

Cukuplah ayat dibawah ini sebagai penutup dan renungan bagi para suami yang mendambakan kebahagiaan dalam rumah tangga mereka di dunia dan akhirat.

"Dan pergaulilah mereka dengan cara yang patut kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." [An-Nisaa: 19]

Wallahu 'alam bis shawwab.

Sumber Bacaan:
1. Al-Qur'an dan Assunnah Bicara Wanita, darul Falah, Jakarta.

2. Al-Jami' Fi fiqhi An-Nisa, Syaikh Kamil Uwaidah, Daarul Kutub Ilmiyah, Beirut, Lebanon

Read more...

Wanita

>> Thursday, February 15, 2007

Di cuplik dari www.muslimah.or.id (a must read website!)

...betapa menjadi seorang wanita bukanlah hal yang mudah. Di satu sisi wanita menunjukkan keindahan namun di sisi lain wanita juga menjadi fitnah dunia. Bukan sekedar itu saja namun seorang wanita juga memiliki amanah yang besar yang akan dimintai pertanggungjawaban di akherat nanti. Amanah-amanah tersebut terangkai dalam berbagai peran dalam diri seorang wanita didalam kehidupannya. Antara lain peran:

Wanita sebagai seorang anak, yang harus berbakti kepada kedua orangtuanya.
Seperti firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:
“Dan Rabbmu telah memerintahkan kepada manusia janganlah kalian beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orangtua dengan sebaik-baiknya…” (QS Al Israa’: 23)

Wanita sebagai seorang istri, yang harus taat kepada suami.
“Kalau seandainya aku (boleh) memerintahkan seseorang untuk sujud kepada seorang yang lain maka akan aku perintahkan seorang wanita untuk sujud kepada suaminya.” (HR. at-Tirmidzi no. 1159, Ibnu Majah no. 1853 san dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Wanita juga sebagai seorang ibu yang harus mendidik dan merawat anak-anaknya dari sulbi hingga dewasa.
“Istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhori & Muslim)

Subhanalloh itu tiga peran dari sekian banyak peran yang harus diampu oleh seorang wanita. Beratkah??? ...ingatlah di balik sekian banyak peran tersebut tersimpan mutiara nikmat yang besar dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala jika kita mau menyadarinya.

Read more...

Tafakur

Menyelami nasihat yang indah oleh Ibnul Jauzi kepada anaknya...
(Akhowati fillah mahbubah (bener ga ya bhsnya)...semangat yuk!!! nasehat menasehati dalam kebaikan dan kesabaran ---> menasehati dengan cara yang lembut, menerima nasehat dengan lapang dada)

Rahasia Sukses Menasihati Anak (Luftatu 'l-Kabad fi Nashihati 'l-Walad)
Oleh Ibnul Jauzi
Penerbit Al Qowam

Mengertilah wahai anakku, semoga Allah senantiasa menunjukimu kepada kebenaran bahwa seorang manusia tidak pernah diistimewakan dengan diberi akal kecuali agar dia berbuat sesuai dengan tuntutan akal tersebut.[1] Oleh karena itu kedepankanlah akalmu, berdayakan pikiranmu, dan perkayalah jiwamu.

Belajarlah dengan berdasarkan dalil [2] karena engkau adalah seorang makhluk yang mendapatkan beban hukum, dimana engkau dibebani berbagai kewajiban yang harus engkau kerjakan. Ada dua malaikat yang senantiasa mencatat semua ucapan dan pandangan matamu. Nafas-nafas kehidupan, sesungguhnya hanya mengarahkanmu kepada kematian. Waktu untuk tinggal di dunia sangatlah singkat, sedang terkurungnya seorang hamba di kubur sangatlah lama, dan siksa akibat memperturutkan hawa nafsu adalah sangat menyakitkan.

Lantas dimanakah kenikmatan2 yang dirasakan kemarin? Semuanya telah pergi. Dan yang tersisa kini hanyalah penyesalan.

Dimanakah segala kelezatan memperturutkan syahwat yang pernah dibisikkan oleh nafsu? Betapa banyak kepala yang tertunduk lesu dan kaki yang tergelincir? Seseorang yang berbahagia tidak akan bisa merasa bahagia dengan sebenar2nya kecuali dengan menentang hawa nafsunya (dan dengan kecondongan hati kepada agama Allah). Dan seseorang yang sengsara tidak akan pernah mengalami kesengsaraannya kecuali karena ia lebih mementingkan dunianya.

Ambillah pelajaran dari para raja dan ahli zuhud yang pernah hidup dimasa lampau. Dimanakah gerangan kenikmatan yang pernah mereka kenyam? Dan dimanakah gerangan kesusahan yang pernah mereka rasakan? Kini yang tersisa hanyalah pahala yang melimpah dan cerita yang baik, yang diperuntukkan bagi orang2 yang mau menaati Allah. Sedangkan cerita yang buruk dan siksaan yang menyakitkan diperuntukkan bagi orang2 yang bermaksiat kepadaNya. Seolah2 mereka yang merasa lapar pada hakikatnya tidak pernah lapar dan mereka yang merasa kenyang sebenarnya juga tidak pernah kenyang.

Bermalas2an untuk mengerjakan amal keutamaan adalah tabiat buruk. Kesukaan menganggur mendatangkan penyesalan dan tidak mengembangkan potensi semua kenikmatan yang telah ada. Oleh karena itu bersiaplah untuk bersusah payah mengerjakan amal keutamaan.

Mengertilah bahwa mengerjakan semua kewajiban dan menjauhi semua larangan adalah suatu keharusan. Ketika seorang manusia sengaja membangkang, maka kesengajaannya untuk masuk neraka itu pun diganjar dengan neraka pula.


Kemudian hendaknya engkau juga mengerti bahwa mendapatkan keutamaan merupakan tujuan paling final dari orang2 yang bersungguh2 dalam menjalankan tuntutan agama. Mengenai keutamaan sendiri ada perbedaan pendapat dikalangan cendikia. (Sebagian berpendapat bahwa keutamaan itu terdapat dalam zuhud [3] terhadap dunia. Sedangkan sebagian yang lain berpendapat bahwa zuhud terdapat dalam penyibukan diri untuk beribadah).

Yang benar, keutamaan yang sempurna tidak lain adalah proses menghimpun ilmu dan amal.[4]Apabila proses penghimpunan kedua hal ini telah berhasil diwujudkan, maka keduanya pun akan mengangkat orang yang memilikinya menuju pada pemahaman yang semestinya terhadap Sang Pencipta, Yang Maha Suci dan Maha Tinggi. Serta menggerakkan pemiliknya tersebut untuk merasa takut kepadaNya dan merindukanNya.

Tujuan yang hendak dicapai itu sesuai dengan kadar kemampuan yang telah dicurahkan oleh orang yang mempunyai tekad yang kuat, maka datanglah himpunan tekad tersebut. Namun tidak semua yang diimpikan layak menjadi cita2, dan tidak pula semua orang yang menginginkan sesuatu bisa mewujudkan keinginannya tersebut. Namun seorang hamba hanya disuruh untuk bersungguh2, sebab semua orang telah diberi kemudahan untuk mendapatkan apa yang menjadi bagiannya [5]. Dan hanya Allah yang layak untuk dimintai pertolongan.


[1] Lihat QS Ar Ro'd [13]: 3-4, QS Ali Imron [3]: 19, QS Yunus [10]: 101

[2] Belajar dengan berdasarkan dalil adalah prinsip dasar dalam berbagai persoalan akidah dan syariah.


[3] Zuhud: berpaling dari sesuatu dan tidak menaruh minat padanya, serta hanya mengambil yang penting dari hal2 yang halal saja.


[4] Penghimpunan antara ilmu dan amal merupakan satu prinsip dari berbagai prinsip Islam. Dimana Islam tidak mungkin hanya dipahami atau dipraktekkan kecuali dengan merealisasikan hal tersebut. Yang demikian itu karena tidak ada artinya ilmu yang berdiri sendiri namun ilmu tersebut haruslah diwujudkan dalam praktek nyata.

[5] Ungkapan ini berasal dari sebuah hadist muttafaqun 'alaih:
Dari Ali, Rasulullah bersabda: "Tidak seorangpun diantara kalian kecuali telah ditetapkan tempat duduknya yang ada di neraka dan tempat duduknya yang ada di surga."

Lalu para shahabat berkata: "Wahai Rasulullah mengapa kita tidak bersandar saja pada ketetapan yang telah ditetapkan kepada kita itu dan kita tidak beramal?"

Beliau menjawab:"Beramallah kalian, sebab setiap orang telah dimudahkan untuk mendapatkan apa yang menjadi bagiannya. Jika ia termasuk orang yang berbahagia, maka ia dimudahkan untuk mengerjakan amalan orang yang berbahagia. dan jika dia termasuk orang yang celaka, maka dia dimudahkan untuk mengerjakan amalan orang yang celaka."

Lalu Beliau membaca ayat QS Al Lail [92]: 5-10 "Adapun orang yang memberikan (hartanya) dijalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan akan adanya pahala yang terbaik..."


Read more...

Bunda...Ngga Boleh Capek

>> Monday, February 12, 2007

"Hik ihik ihik...", kudengar suara putri kecilku, merintih pelan sambil gedebag gedebug, gelisah tidurnya. MasyaAllah, tersentak aku lalu bangun dari tidur yang ngga bisa dibilang nyenyak. Kantuk masih menguasai dan waktu subuh masih jauh. Hup...langsung aku dekati box tidurnya dan mengecek celananya, basah, ngompol...

Tiap malam, ia biasa terbangun paling tidak 3 kali, entah karena pipis atau lapar. Alhamdulillah, putriku termasuk anteng kalau lagi tidur (kalau ngga mau dibilang ndableg). Biasanya setelah diganti celananya, diberi minum, dan sendawa, dia akan tidur lagi dengan cantiknya. Kadang sambil memberinya minum, rasa kantukku sulit sekali pergi. Lelah hari itu belum juga hilang. Aku sering sempatkan untuk melirik ayahnya yang masih tenang dalam tidurnya, pulas sekali...ah ayah, kecapekan ya...

Realita memang tak seperti bayangan. Semasa masih gadis, aku hanya membayangkan betapa bahagianya menjadi seorang ibu. Saat melihat kelucuan dan keceriaan seorang anak, ingin rasanya segera memiliki.

Kini setelah aku benar dikaruniai seorang anak ternyata tak sesederhana yang kukira. Merawat dan mendidik anak sungguh membutuhkan kesabaran dan ketelatenan yang ekstra. Tidak ada kata capek bagi seorang bunda, terlebih di bulan2 awal setelah melahirkan. Kondisi tubuh yang belum pulih bukan alasan untuk beristirahat panjang, apalagi bermanja-manja atau merintih-rintih.

Aku sangat bersyukur, suamiku tidak tinggal diam dalam merawat si kecil meski awalnya terlihat agak canggung. Maklum, ini anak pertamanya, jangankan suami, akupun masih canggung pada awalnya. Alhamdulilah dalam waktu singkat suami sudah bisa turut serta merawat si kecil, walau untuk memandikan dia belum berani (sampai sekarang =P). Setidaknya untuk menggendong dan mengganti popok dan baju sudah luwes. Bahkan sekarang anakku dekat sekali dengan ayahnya. Tidak jarang suamilah yang mengingatkanku untuk sabar menghadapi anak yang terkadang rewel, "yang sabar bunda sayang...".

Kini si kecil sudah berusia 4 bulan lebih. Alhamdulillah dia ceria, sehat, lincah, dan perkembangannya pun menggembirakan. Sudah bisa tengkurap, tertawa, dan ngobrol sama ayah bundanya, bikin gemas. Melihat si kecil sehat dan bahagia, itu luar biasa rasanya bagi seorang bunda. Seolah hilang rasa sakit dan lelah yang kemarin-kemarin. Si kecil juga lah yang menguatkan hubungan seorang istri dengan suaminya. Berguling2 dikasur bersama suami dan anak yang baru bangun tidur bau asem (tapi seger)... what a beautiful life...

Aku sangat bersyukur kepadaNya...atas pertolongan dan kemudahan yang telah Dia berikan. Hari kemarin memang melelahkan, tapi hari esok masih menanti kelelahan berikutnya untuk mendidiknya menjadi generasi rabbani. Semoga Allah senantiasa memberikan pertolonganNya sehingga aku dan suami mampu mendidiknya menjadi anak yang shalihah.

Kulihat wajah si kecil didekatku. Matanya tertutup rapat, tidurnya pulas, ada sedikit senyum tersungging di bibir mungilnya. Begitu lucu, cantik, mirip...

Kucium pipinya pelan2, "Bobok ya sayang..."

Read more...

  © Blogger template by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP