Jujur

>> Tuesday, July 22, 2008

Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam bersabda:
"Orang beriman itu diciptakan dengan segala macam sifat kecuali khianat dan dusta." [1]

Kemudian beliau ditanya, "Ya Rasulullah, mungkinkan orang beriman itu menjadi penakut?"
"Ya," jawab beliau.

Lalu beliau ditanya, "Mungkinkah orang beriman itu menjadi kikir?"
"Ya," jawabnya.

Kemudian beliau ditanya, "Mungkinkah orang beriman itu menjadi pendusta?"
Beliau menjawab, "Tidak." [2]

[1] HR Muslim
[2] HR Malik dalam Al Muwaththa dengan sanad mursal (terputus dengan hilangnya rawi setelah tabi'in)

Read more...

Khansa mulai bertanya 'Kenapa'

>> Monday, July 21, 2008

'Khansa mau mandi sama ball Bundaiii,' kata Khansa sore2.
'Oke,' kata saya.

Saya pikir Khansa mau bawa bola karetnya mandi, ternyata yang dia maksud adalah kapur barus berbentuk bola warna warni yang saya taruh di kamar mandi. Mau diambilnya semua trus dimasukin ke ember bareng sama dia mandi.

'Oh no no Khansa. Jangan, itu ball nya beracun,' kata saya.
Beberapa detik kemudian dia tanya lagi, 'Kenapa Bunda?'
Saya jawab, 'Karena ballnya beracun.'
Eh masih nanya, 'Kenapa bel a cun?'

(Kenapa beracun ya... hhmm, ya karena ada racunnya =P. Nah lho, untung ngga nanya racun itu apa. Bingung deh Bunda jawabnya)

Read more...

Saling Membantu dalam Mengerjakan Ketaatan

>> Tuesday, July 15, 2008

Diringkas dari Majalah Fatawa Vol IV/No 06, Juni 2008

Ada kalanya suami istri merasa ada kehampaan atau sesuatu yang ‘hambar’ dalam rumah tangganya. Kadang2 hal ini bisa mempengaruhi kualitas keharmonisan rumah tangga. Salah satu penyebabnya adalah karena pasutri sedang dalam keadaan futur dan jauh dari Allah. Karena itu, hal ini harus segera diperbaiki dengan bersama2 bangkit untuk melakukan ketaatan kepada Allah.

Diantara factor paling dominan untuk melanggengkan kehidupan rumah tangga adalah jika diantara suami istri saling bekerja sama dan saling membantu didalam mengerjakan ketaatan kepada Allah secara bersama2.

  1. Mengkhususkan waktu untuk membaca Al Quran. Misal dengan membuat kesepakatan antara keduanya untuk duduk bersama membaca kitab Allah pada saat keduanya dalam keadaan luang dari tugas dan pekerjaan masing2.


  2. Membangunkan yang lain untuk mengerjakan sholat malam untuk mencari ridlo Allah. Percayalah, hal ini akan menambah kecintaan diantara keduanya dan Allah akan memberkahi kehidupan rumah tangga mereka serta menjadikannya penuh dengan kebahagiaan. Di akhirat kelak mereka juga akan memdapatkan sebaik2 pahala.


  3. Saling mengajak dan memotivasi pasangan untuk melakukan amal dan ketaatan kepada Allah, misal dengan memperbanyak sedekah, sholat sunnah, dan membaca Al Quran serta berusaha istiqomah dalam menjalaninya.


  4. Suami dan istri juga harus saling mengingatkan untuk giat mencari ilmu, khususnya ilmu agama. Karena menuntut ilmu akan memudahkan jalan menuju surga. Menuntut ilmu bisa dilakukan dengan menghadiri majelis taklim, kajian keluarga, membaca buku2 Islami yang bermanhaj shahih, atau dengan mendengarkan ceramah melalui VCD.
Semoga ketaatan kita kepada Allah dan semangat kita dalam menuntut ilmu bisa mendatangkan berkah dan menambah keharmonisan dalam keluarga. Amin.

Read more...

Smoki

>> Monday, July 14, 2008

Ceritanya, Bunda lagi pengen ngajarin Khansa mamam sendiri dan mencoba membiasakan Khansa makan sembari duduk manis sampai selesai. Nah untuk memfasilitasi hal tersebut, AyBun beli 1 set meja dan kursi kecil tempat dia bisa duduk dengan nyaman. Meja dan kursinya bergambar kartun2 lucu dengan huruf dan angka warna warni. Bagus, bisa sekalian buat belajar.

Setelah dibeli, Bunda pun sibuk nutupin wajah gambar2 kartun dan anjing yang ada di meja dan kursi Khansa tersebut. Tiba2 Khansa bilang, 'Bunda, Khansa mau sosasi (baca: isolasi).' Bunda kasih 1 lembar stiker biru polos dan isolasi. Bunda pikir Khansa mo ikutan tempel2 di mejanya.

Ternyata engga, Khansa jalan ke pintu dan minta dibukain pintu keluar.

'Lho Khansa mo kemana?'

Jawabnya, 'Khansa mo tutup mata smoki.'

Hihihi, ternyata dia mo pasang isolasinya di mata si smoki, anjing tetangga =P

(Smoki itu teman Khansa di rumah baru kita. Si nenek yang punya smoki orangnya baik dan suka ngajak Khansa ngobrol. Kalo pagi2 lewat rumah smoki dan masih tertutup pintunya, Khansa bakal bilang, 'Smoki belum bangun, masih bobok' atau ga 'Smoki bangun pagi dong.')

Read more...

Suami Bukan Malaikat

Disalin dari Majalah Fatawa Vol IV/No 06, Juni 2008

Diantara para istri ada yang sangat ingin mendapatkan suami yang ideal, sesuai dengan apa yang ia ingin dan angankan. Seringkali hal ini menjadikannya 'berenang' dalam lautan idealisme dan menjauhi realitas. Ia menginginkan agar pasangan hidupnya adalah sosok yang sempurna dalam segala hal.

Inilah yang biasanya kita dapatkan pada sebagian kaum istri. Ia menginginkan dari suaminya segala hal yang ia kehendaki. Sesungguhnya orang yang berenang dalam lautan idealisme ini sama saja berenang melawan arus dan ia tidak akan bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia malah akan kehilangan sebagian dari hakikat2 penting mengenai kehidupan dan ia akan terus merasa letih dan tidak bisa bahagia.

Seharusnya seorang istri menyadari beberapa hal berikut:

1. Yang namanya suami itu tidaklah memiliki segala hal yang kita cintai dan kita inginkan. Bahkan padanya terdapat sesuatu yang kita sukai dan kita benci. Suami bukanlah sosok yang bisa dikatakan ideal dan memang tidak akan bisa menjadi demikian. Setiap orang tentu memiliki kelebihan dan juga kekurangan. Dan engkau wahai wanita, tidak akan bisa mendapatkan sosok yang terbebas dari cacat atau kekurangan. Jika kebaikannya mengalahkan keburukannya, maka itulah seorang mukmin. Jika ia memiliki banyak kelebihan dan lebih sedikit kekurangannya, maka itulah sebaik2 suami.

2. Bukan sesuatu yang ringan atau mudah mengubah kebiasaan dan sifat2 kepribadian seseorang, terlebih setelah menikah dan menjadi suami. Oleh karena itu terimalah suamimu sebagaimana adanya dan berusahalah memperbaiki hal buruk yang engkau lihat untuk diganti dengan yang baik dengan cara yang bijaksana. Waspadalah jangan sampai engkau membuatnya terluka.

3. Janganlah engaku jadikan keburukan2 itu melupakanmu dari kebaikan2 yang ada. Dalam arti, barangkali engkau marah pada suamimu karena suatu hal, karena suatu hari ia tidak menyenangkan terhadapmu. Akan tetapi jangan sampai hal ini menjadikanmu lupa akan kebaikan2nya, lantas engkau katakan, 'Dia tidak pernah berbuat baik padaku sama sekali.' Atau kalimat semisalnya.

Tindakan seperti ini adalah bentuk keingkaran kepada suami. Nabi kita telah memperingatkan kaum wanita dari tindakan seperti ini dengan bersabda, "Aku melihat ke dalam neraka dan ternyata kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita. Mereka itu ingkar." Ditanyakanlah kepada beliau, "Apakah karena mereka itu ingkar kepada Allah?" Beliau menjawab, "Mereka itu ingkar kepada suami. Jika engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang engkau hidup bersamanya, lantas ia melihat sesuatu (yang tidak mereka sukai) darimu, ia pun berkata, 'Aku tidak pernah melihat kebaikan darimu sama sekali.'" (HR Bukhori)

Oleh karena itu waspadalah wahai muslimah, jangan sampai engkau menjadi bagian dari golongan wanita yang ingkar kepada suami sehingga engkau bisa menjauhkan diri dari neraka. Janganlah engkau melupakan kebaikan2nya tatkala engkau sedang diperlakukan secara tidak baik. Janganlah engkau mengucapkan sesuatu karena marah, selain kata2 yang benar.

Read more...

Belanja

>> Saturday, July 12, 2008

Lagi merasa di 'kepruk' sama ibu2 penjual sayur di pasar basah deket rumah sini. Perasaan cuma belanja sayur beberapa macam aja, kok sampe hampir $10. Setelah ditanya satu2 harganya berapa, si ibu pun kelimpungan jawabnya, masak sayur seiket yang di supermerket 60 cents ama dia jadi $1... asal nih ibunya. Aturan kan di pasar basah lebih murah daripada di supermerket.

Nah itulah ngga enaknya belanja di pasar basah yang harga barangnya ngga ditulis, jadi si penjual bisa suka2 kasih harga. Apalagi kalo yang beli bertampang anak2 =(

Mari kita belajar trik2 belanja di pasar basah.

Read more...

Kupon

Supermerket terdekat dari rumah sekarang bukan F*irprice atau Sh*ngshiong yang kita sudah familiar. Tapi Sh*p n S*ve. Kita ngga biasa belanja di Sh*p n S*ve sebelumnya. Kalo dilihat sekilas sih barangnya ngga sekomplit di supermarket lain, apalagi sayur2nya, dikit banget.

Waktu belanja pertama kali di situ belanjaan kita cukup banyak karena memang baru pindah rumah, banyak yang musti dibeli. Pas bayar dikasir kita dikasih kupon beberapa biji berbentuk stiker. Saya pikir ini sejenis toto atau 4D karena ada kode2 angkanya banyak. Males nanya2 ke kasirnya.

Sampe di depan pintu keluar, ada nenek2 yang dengan bahasa syarat seperti meminta2. Saya pikir mau minta uang, ternyata dia mau kupon2 saya. Oh mau ini? ya udah saya kasih aja.

Besoknya sewaktu lewat situ lagi, nenek yang sama ada di depan pintu masuk. Usut punya usut ternyata si nenek ini (dan beberapa teman2nya) memang tiap hari disitu dan mintain kupon orang2 yang habis belanja.

Ada apa dengan kupon tersebut? Penasaran, saya tanya juga sama kasirnya karena memang tidak ada poster atau pamflet yang menerangkan. Ternyata kita bisa dapat 1 kupon tiap pembelian kelipatan $15. Dan kupon2 itu bisa ditukar dengan voucher belanja senilai $9 kalau sudah terkumpul 12 biji. Oalah...

(Maap ya nek, besok2 kuponnya saya simpen sendiri =P)

Read more...

Kecerdasan Komunikasi dalam Rumah Tangga

>> Wednesday, July 09, 2008

Di rangkum dari Majalah Nikah Vol 7, Juli 2008
Oleh: Ust. Abu Umar Basyir

Ada banyak contoh rumah tangga yang gagal, bukan karena konflik berat atau kelainan prinsip yang essensial, tapi karena kegagalan dalam komunikasi antar pihak yang terkait dalam kehidupan rumah tangga tersebut. Komunikasi adalah termasuk persoalan dasar dalam rumah tangga. Seringkali berbagai teori gemerlap seputar cara membentuk rumah tangga bahagia menjadi begitu mentah ketika sudah tersandung dengan kesulitan berkomunikasi.

Komunikasi menjadi sebuah pekerjaan yang penuh makna bila mampu menampilkan secara optimal segala curahan hati, pokok2 pemikiran dan ungkapan kasih atau benci dari masing2 pihak yang berkomunikasi kepada pihak yang diajak bicara. Suami dengan istri adalah dua pihak yang sudah terikat cinta kasih yang semakin tumbuh berkembang seiring berjalannya kehidupan rumah tangga. Cinta kasih itu bahkan menjadi 'sejati' saat sudah dibaluri nilai2 Islam. Karena target cinta kasih itu menjadi sosok yang jelas, yakni menggapai keridloan Allah.

Namun persoalannya, masing2 pihak kerap kali berbicara dengan bahasa yang unik sesuai dengan wawasan dan perkembangan intelektualitas masing2. Terkadang diantara suami istri, mengkomunikasikan cinta kasih juga dengan cara yang berbeda. Masing2 punya cara spesifik untuk membuat lelucon, canda, atau basa basi yang sering kali dipahami secara berbeda oleh pihak lain.

Disini dibutuhkan sikap bijak untuk memahami banyak hal pada pasangan terutama dengan dimensi pikirannya yang sedang mengalami kejutan2 unik khas masing2 gender. Pria dengan dunianya dan wanita dengan dunianya. Terkadang masing2 merasa harus mengkomunikasikan segala yang berbelit2 dalam pikirannya sementara sang pasangan juga punya obsesi serupa. Payahnya sering kali kedua obsesi itu bertempur berebut eksistensi. Konflik pemikiran pun terjadi. Dan keributan bisa jadi menjadi bagian akrab dengan mereka berdua saat itu. Sekali lagi sangat dibutuhkan kebijakan dalam menangkap sinyal2 komunikasi itu secara tidak terlalu verbal bahkan sering kali berwujud multitafsir.

Untuk dapat berkomunikasi secara cerdas, suami atau istri sesungguhnya tidak memerlukan pendidikan dan pengajaran akademis yang tinggi. Yang paling dibutuhkan justru mengontrol emosi yang mapan yang tumbuh melalui pembiasaan.

Pendidikan, pengajaran, bimbingan, dan wawasan memang sangat diperlukan untuk membuka cakrawala berpikir ke arah yang lebih maju. Kebijakan dan kearifan juga tumbuh subur bila disemai dan diberi pupuk pengetahuan yang memadai. Artinya diperlukan perangkat lain yang jauh lebih penting dari sekedar teori ilmiah semata, yaitu kecerdasan emosi yang melahirkan kecerdasan berpikir, kearifan bersikap, dan kejeniusan dalam berkomunikasi.

Sabda Rasulullah, "Orang yang kuat bukanlah yang kuat bergulat namun yang mampu menahan diri ketika marah." (HR Bukhori no. 6114, Muslim no. 2609)

Read more...

Korden

>> Monday, July 07, 2008

Rumah baru kita 'unfurnished' alias 'kosongan', ngga ada perabotnya sama sekali termasuk korden.

Tapi asik juga sewa rumah unfurnished, kita bisa atur2 sendiri barang2 kita sendiri, jadi sense of belongingnya lebih besar.

Hari kedua setelah pindahan, kita cari2 korden demi bobok malamnya supaya lebih nyenyak, karena tanpa korden cahaya lampu dari luar bisa masuk dan jadi sedikit silau. Juga karena malam pertama Khansa bolak balik nunjuk ke arah jendela tak berkorden itu dan bilang, 'Bunda, Khansa gaget (baca: kaget), ada bapak' (huaa, Bunda merinding, kita kan di lantai 11, masak bapaknya mau ngambang?)

Seru juga cari2 korden berdua aja sama suami. Selera kita mirip sih, intinya yang simple but nice. Karena korden yang dicari banyak (untuk 3 kamar dan 1 hall), si penjualnya ikutan heboh milih2in. Bingung deh kita, masalahnya tiap kamar itu warna catnya beda, kuning, pink, dan ungu =P. Tiap nemu yang designnya ok, eh harganya ga ok. Kalau harganya ok, designnya gemerlapan ada warna gold dimana2... berdua langsung kompak geleng2.

Akhirnya kita putuskan beli 1 warna aja, broken white... nah itu bisa cocok untuk semua ruangnya, sip. Harganya pun ok. Setelah diajarin sama penjualnya gimana cara pasang, dll kita langsung cepet2 pulang, pengen cepet pasangin kordennya.

Pasang2 kordennya seru juga. Namanya juga baru pertama kali pasang korden sendiri... masih trial-error. Entah berapa kali tuh korden dipasang-dicopot-dipasang-dicopot. Yang kependekan lah, yang salah pasang hook nya lah, yang kok-kusut-belum-disetrika lah. Suami udah pasang wajah -capeeee deeeeh- tapi untung istrinya punya senjata senyuman dan lirikan maut...

Akhirnya semua korden sudah terpasang dengan rapi dan licin... thanks honey.

Read more...

Pindahan... Pindahan

Yaaa biasa lah, namanya juga kontraktor, tiap taun pindah rumah terus. Alhamdulillah pindah rumah edisi tahun ini sudah selesai dan berjalan lancar walau ditemani hujan rintik2.

Dulu jaman masih single dan pindahannya level 'dari-hall-ke-hall' sih masih enak, paling2 barangnya cuma baju dan buku. Setelah nikah, masih baju dan buku, cuma jumlahnya hampir 2x lipat. Setelah punya anak, nah ini... barangnya pun ikut beranak pinak seperti yang punya. Setelah dipack... kok ya buanyaaak ya...

Ya memang dasarnya saya dan suami ngga suka rumah berantakan, jadi begitu nyampe rumah baru, langsung aja semua kardus disikat (dibongkar maksudnya). Sampe lupa yang namanya lelah, lapar, dan dahaga (halah)...

Pindahan dari pagi, nyadar2 udah jam 2.30 siang, selagi ditengah2 proses bongkar2 barang. Dan saya baru nyadar juga kalau Khansa belum maem siang. Duhh kasian, dari pagi ikutan heboh pindahan, ikut heboh bongkar2 barang, termasuk yang sudah dirapiin =(

B: 'Mbak Khansa laper ngga?'
K: 'Khansa laper'
B: 'Maem nasi ya...'
K: 'Sama abon Bunda'

Nasi dan abon... tumben2an langsung lahap maemnya, padahal biasanya diemut dan lama.

Alhamdulillah sebelum maghrib semua barang sudah di bongkar dan sudah duduk manis ditempat masing2.

Tepar... tapi lega.

Malamnya, setelah semua orang tidur, saya masih belum bisa tidur, kepikiran beberapa barang yang masih belum beres. Akhirnya inspeksi dulu apa2 yang masih belum 'bener' narohnya. Yang 'kenal' saya biasanya tau dan ngga heran kalo tengah malem ada yang ngepel lantai =P

Setelah itu baru deh bisa tidur…

Read more...

Uhuk uhuk

>> Tuesday, July 01, 2008

Di saat mulai lupa untuk saling memanjakan, seperti sewaktu masih 'pacaran'...

nah lhoo...

Sekedar genggaman tangan erat, tatapan yang dalam, dan senyuman yang indah... ahh rindu...

Read more...

  © Blogger template by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP