Monday, January 28, 2008 | 10:35 AM

Shalat Khusu'


dikutip dari majalah Nabila 09/I/Feb 2005

Khusyu' merupakan perkara agung, cepat sirnanya dan jarang adanya, khususnya di akhir jaman yang kita hidup didalamnya.

Shalat laksana sahaya perempuan yang dihadiahkan kepada Sang raja. Apa komentar kita jika sang Raja dihadiahi sahaya perempuan yang lumpuh, bermata juling bahkan buta, kedua kaki dan tangannya putus, sakit atau sangat buruk rupanya bahkan ia dihadiahi sahaya perempuan yang sudah tidak bernyawa?

Lantas bagaimana dengan shalat yang dihadiahkan dan dipersembahkan oleh seorang hamba kepada Allah?

Allah Maha Baik dan tidak akan menerima kecuali yang baik. Dan tidak termasuk hal yang baik, shalat yang tidak ada ruhnya.

Khusyu':
  • (Tafsir Ibnu Katsir VI/414): ketenangan, tuma'ninah, pelan2, ketetapan hati, tawadlu', serta merasa takut dan diawasi oleh Allah.
  • (Madarijus Salikin I/520): menghadap Rabb dengan sikap tunduk dan rendah diri.

Labels: ,


posted by Ummu Khansa-Syifa   0 comments

Friday, January 25, 2008 | 4:53 PM

Yakiniku Yakiniki


Hari ini Bunda kedatangan tamu istimewa (uhuk2), ngobrol kangen2an... trus dimasakin. Enak lagi! Syukron ya Ammah, ditunggu kunjungan2 dan masakan2 selanjutnya =).

Resepnya ditulis di sini ah, biar ngga lupa...

Bahan: Ayam (dada) potong kecil2 bentuk dadu, paprika

Bumbu: Kecap manis, bawang bombay, garam, merica

Takaran: kira2 aja, pake feeling (kata mbak koki =P)

Cara: Masukkan potongan ayam ke dalam kecap manis, tunggu kurang lebih 3 menit. Jika sudah meresap, masukkan ayam dan kecap tadi ke wajan (tanpa minyak) di atas api, tambahkan air secukupnya.

Masukkan bawang bombay, garam, dan merica, tunggu sampai ayam empuk dan bumbu2 meresap. Masukkan paprika jika ayam sudah empuk. Aduk2 sebentar lalu angkat. Siap di santap. Pakai nasi anget, hmm uinuk =)

Labels: ,


posted by Ummu Khansa-Syifa   0 comments

Tuesday, January 22, 2008 | 6:13 PM

Merendah jadi Riya'


Ibaratnya "per"... merendahkan diri tapi trus akhirnya melambung...

Labels:


posted by Ummu Khansa-Syifa   0 comments

| 5:39 PM

Mengambil Ilmu dari Ahlinya


Bukankah kita akan mencari ahli komputer kalau ingin belajar komputer?
Bukankah kita akan pergi kepada ahli ekonomi jika ingin belajar ekonomi?
Bukankan dalam urusan ilmu dunia kita rela pergi jauh keluar negeri semata2 untuk mencari 'ahli' nya?

Lalu bagaimana bisa dalam urusan akhirat kita mengambil ilmu dari 'sesiapa saja'...? dengan dalih 'jangan lihat siapa yang menyampaikan, tapi lihatlah apa yang disampaikan, yang penting kan isinya baik'

Pertanyaannya... 'Baik menurut siapa?' Alangkah sombongnya kita yang jahil (bodoh) ini jika mengatakan bahwa kita bisa memilih dan memilah mana yang baik/benar dan mana yang buruk/salah.

Kawan, mari renungkan kembali...
Urusan akhirat... yang perhitungannya dosa-pahala, juga surga-neraka
Akankah kita bermain2 dalam hal ini?

Mari kita cari dan ambil ilmu din dari ahlinya... Insya Allah inilah yang mendekati selamat.

Labels: , ,


posted by Ummu Khansa-Syifa   0 comments

| 10:13 AM

Berkata Baik atau Diam


Sumber: http://arbaiin.wordpress.com/ Hadist ke-15

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah bersabda: "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya." [Bukhari no. 6018, Muslim no. 47]

"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat", maksudnya adalah barang siapa beriman dengan keimanan yang sempurna, yang (keimanannya itu) menyelamatkannya dari adzab Allah dan membawanya mendapatkan ridha Allah, "maka hendaklah ia berkata baik atau diam" karena orang yang beriman kepada Allah dengan sebenar-benarnya tentu dia takut kepada ancaman-Nya, mengharapkan pahala-Nya, bersungguh-sungguh melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Yang terpenting dari semuanya itu ialah mengendalikan gerak-gerik seluruh anggota badannya karena kelak dia akan dimintai tanggung jawab atas perbuatan semua anggota badannya.

"Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya kelak pasti akan dimintai tanggung jawabnya." (QS. Al Isra': 36)

"Apapun kata yang terucap pasti disaksikan oleh Raqib dan 'Atid." (QS. Qaff: 18)

Bahaya lisan itu sangat banyak. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam juga bersabda: "Bukankah manusia terjerumus ke dalam neraka karena tidak dapat mengendalikan lidahnya."

Beliau juga bersabda: "Tiap ucapan anak Adam menjadi tanggung jawabnya, kecuali menyebut nama Allah, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah kemungkaran."

Barang siapa memahami hal ini dan beriman kepada-Nya dengan keimanan yang sungguh-sungguh, maka Allah akan memelihara lidahnya sehingga dia tidak akan berkata kecuali perkataan yang baik atau diam.

Selanjutnya ia berkata: Adapun sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam "maka hendaklah ia berkata baik atau diam", menunjukkan bahwa perkatan yang baik itu lebih utama daripada diam, dan diam itu lebih utama daripada berkata buruk.

Demikian itu karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam sabdanya menggunakan kata-kata "hendaklah untuk berkata benar" didahulukan dari perkataan "diam".

Berkata baik dalam Hadits ini mencakup menyampaikan ajaran Allah dan rasul-Nya dan memberikan pengajaran kepada kaum muslim, amar ma'ruf dan nahi mungkar berdasarkan ilmu, mendamaikan orang yang berselisih, berkata yang baik kepada orang lain. Dan yang terbaik dari semuanya itu adalah menyampaikan perkataan yang benar di hadapan orang yang ditakuti kekejamannya atau diharapkan pemberiannya.

Labels:


posted by Ummu Khansa-Syifa   0 comments

Friday, January 18, 2008 | 4:33 PM

Sayang anak, sayang anak...


Siang ini, melihat Khansa tidur dengan tenang, sayaaang deh rasanya. Tidak puas menciumnya berkali-kali. Lalu tiba2 ada rasa takut kehilangan.

Ingatan saya terbang ke masa 2-3 tahun silam ketika anak sahabat saya meninggal dunia karena kanker darah dalam usia yang dekat dengan usia Khansa sekarang, hampir 1.5 tahun.

1.5 tahun, sepertinya waktu yang singkat. Tapi dalam waktu itu ikatan antara ibu dan anak sudah sedemikian kuatnya. Jangankan 1.5 tahun, sejak dalam kandungan saja rasa sayang itu sudah begitu hebat. Pertama kali pandang2an sama anak... duhhh, indah sekali rasanya (dibanding tatapan pertama suami?? wahh lewat deh... =P)

Tidak bisa membayangkan bagaimana sedih perasaan sahabat saya itu... pantesan dia bilang pengen nge-gampar dokter nya yang dengan santainya bilang, "Mbak, mbak kan masih muda, bisa bikin anak lagi. Sudah relakan saja anaknya... sudah makan biaya banyak dan harapan tipis." sigh

Labels: ,


posted by Ummu Khansa-Syifa   0 comments

| 3:41 PM

Meninggalkan Televisi bukanlah Sikap Ekstrim, tapi Bentuk Penjagaan terhadap Keluarga


Oleh: Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan

Soal:
Sebagian orang yang dikenal kebaikannya memasukkan televisi ke dalam rumahnya dan berkata bahwa dia tidak ingin dituduh sebagai orang yang ekstrim/terlalu mengekang. Apa nasehatmu wahai fadhilatus Syaikh?

Jawab:
Meninggalkan televisi bukanlah sikap yang ekstrim. Hanya saja ini sikap menjaga agama, keluarga dan anak-anak. Ini adalah bentuk menjauhi diri dari sebab-sebab kemudaratan.

Karena hadirnya televisi di rumah menyebabkan kemudaratan bagi anak-anak, para wanita, bahkan kepada kepala keluarga itu sendiri.

Siapa yang merasa aman dari fitnah (ujian/bahaya yang mengancam dunia dan akhirat seseorang-pent)?

Semakin selamat seseorang dari sebab-sebab fitnah, maka ini lebih baik baginya sekarang atau di masa depan. Dan tidaklah meninggalkan televisi merupakan bentuk sikap ekstrim/terlalu mengekang. Ini adalah bentuk penjagaan.

(Diterjemahkan dari Al-Muntaqa min Fatawa Syaikh Fauzan, soal nomor: 127. Sumber: www.anakmuslim.wordpress.com)


posted by Ummu Khansa-Syifa   0 comments

Thursday, January 17, 2008 | 3:42 PM

Kalau pikiran lagi ruwet


Kutipan dari buku "Agar Hidup Terasa Nikmat, Petunjuk Islami Mengatasi Kesulitan Hidup" oleh Mahmud bin Al Jamil.

Hidup tanpa problema hanyalah impian belaka. Sudah sunnatullah orang hidup terkadang mengalami kesusahan dan kesempitan yang membelenggu kehidupannya. Bagi seorang Muslim, yang harus dilakukan bukanlah melarikan diri dari kesulitan, namun bagaimana ia mampu menghadapi setiap masalah yang menerjang kehidupannya dengan jiwa yang lapang.

Ingat2 aja... 'sabar' dapat melapangkan kesulitan dan doa orang2 yang dalam kesulitan tidak akan ditolak (An Naml: 61).

Jazakillahu khoir ya ukhti ... (capek ga nulis sms sepanjang ini? =))

Labels:


posted by Ummu Khansa-Syifa   0 comments

| 2:45 PM

Majang Foto di Internet?


di Copy-paste dari multiply Andhiena

Aduhai...
Apakah aku akan memasang foto-foto diriku di dunia internet yang serba bebas ini dan tidak tahu dimana lagi akan dicache file-file itu?

Ataukah aku akan rela memajang wajah-wajah saudari-saudariku, ibu-ibuku atau isteri-isteriku sehingga bisa ditonton semua orang?

Tidak sekali-kali tidak wahai...
Bahkan agama kita yang suci ini telah memberikan kaidah-kaidah yang agung menjaga kesucian jiwa kita, keluarga kita, menutupi aurot-aurot kita. Cukuplah rasa malu kita yang akan menyelamatkan diri kita wahai ikhwah fillah.

Marilah kita menyimak bagaimana perkataan orang-orang yang memiliki ilmu tentang hal ini.

Para ulama' kita berbeda pendapat ttg hukum foto, dan gambar, akan tetapi tidak ragu lagi apabila foto-foto yang menampilkan aurot-aurot wanita yang mustinya ditutupi dan dikhususkan melihatnya bahkan menikmatinya untuk suami-suami mereka, kemudian ditampilkan demikian itu didepan umum... maka kita bisa mengira sendiri apa akibatnya. (Abu Thabitha)

Labels: , ,


posted by Ummu Khansa-Syifa   0 comments