Akhir-akhir ini Bunda perhatikan si mbak mulai banyak "aneh-aneh"nya. Seperti sengaja mencari perhatian ayah bundanya tak peduli suasana apapun. Tumpah-tumpahkan susu, banting pintu, lepas baju/celana dan ga mau pakai lagi, lempar mainan, pukul adik, coret-coret lantai, lompat-lompat ngga jelas dikasur. Teruusss aja, habis ini, trus itu, lalu yang lain, nanti apa lagi. Kalau di beri tahu malah semakin menjadi. Kalau dibentak sedikit, ujung-ujungnya menangis, merengek-rengek. Kadang jengkel... astaghfirullah...
Saya sudah berulang kali berjanji dalam hati, bunda... jangan sekali-sekali bentak anak. Tapi kok ya, kadang suka kelepasan dan kembali terulang. Dulu sewaktu belum punya anak, saya paling tidak setuju dengan metode mendidik anak ala membentak dan menakut-nakuti. Tapi ironisnya setelah beneran punya anak, kalau sudah kepepet kadang keceplosan pakai acara menakut-nakuti. (1) Mbak, jangan tumpahin susunya nanti lantainya kotor. (si mbak nekat) (2) Mbak jangan tumpah-tumpahin susu, nanti lengket semua, capek bersihinnya. (masih nekat) (3) Mbak, anak sholihah nurut sama orang tua kan... (eh lha kok masih nekat sambil senyum-senyum) (4) EMBAK! (sambil agak melotot). (masih ga mempan, susunya udah kemana-mana, malah diusap-usapin ke muka segala) (5) Mbak, Bunda marah nih! (tetep ga berhenti, makin asik) (6) Mbak, mau masuk ke gudang?
tet tot...
Hiks (ngancem juga akhirnya)
Tapi memang kalimat terakhir ini yang mempan, langsung ada respon "Ngga mau bun..."
Sepertinya Khansa benar-benar takut dengan ancaman ini sampai-sampai kalau dia mau "nakal" disuatu tempat (misal di rumah pakdhenya), Khansa tanya dulu "Pakdhe punya gudang ngga?"
(Ya Allah sampai segitunya tho nak...)
Untung ada suami yang mengingatkan, "Makanya, jangan sering-sering bentak anak. Juga jangan ditakut-takuti." Mungkin memang bapak-bapak lebih bisa sabar menghadapi anak kali ya. Kalau metode si ayah, gendong langsung anaknya, masuk kamar berdua aja dan ajak bicara, beri pengertian (kalau Bunda, duuh keburu yang kecil merengek juga, keburu ini keburu itu, ... ngeleeess melulu)
Naluri/gharizah anak memang bermain, jadi ya jangan disamakan tolok ukur benar/salahnya anak dengan standar orang tua atuh bun...
Maafkan Bunda ya, Bunda sayang mbak...
(Kembali berjanji untuk tidak membentak anak)
Read more...