Ibarat Mengukir diatas Batu

>> Friday, June 26, 2009

Usia kanak-kanak adalah masa keemasan dalam kehidupan seseorang. Segala yang dipelajari dan dialami pada masa ini –dengan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala– akan membekas kelak di masa dewasa.

Tak heran bila di kalangan pendahulu kita yang shalih banyak kita dapati tokoh-tokoh besar yang kokoh ilmunya, bahkan dalam usia mereka yang masih relatif muda. Dari kalangan sahabat, ada 'Abdullah bin 'Umar, 'Abdullah bin 'Abbas, 'Abdullah bin Mas'ud, Mu'adz bin Jabal, Anas bin Malik radhiyallahu 'anhum, dan banyak lagi. Kalangan setelah mereka, ada Sufyan Ats-Tsauri, Al-Imam Malik, Al-Imam Asy-Syafi'i, dan Al-Imam An-Nawawi rahimahumullah.

.....

Diceritakan oleh Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullahu: "Aku adalah seorang yatim yang diasuh sendiri oleh ibuku. Suatu ketika ibuku menyerahkanku ke kuttab*, namun dia tidak memiliki sesuatu pun yang bisa dia berikan kepada pengajarku. Waktu itu, pengajarku membolehkan aku menempati tempatnya tatkala dia berdiri. Ketika aku telah mengkhatamkan Al-Qur’an, aku mulai masuk masjid. Di sana aku duduk di hadapan para ulama. Bila aku mendengar suatu permasalahan atau hadits yang disampaikan, maka aku pun menghafalnya. Aku tak bisa menulisnya, karena ibuku tak memiliki harta yang bisa dia berikan kepadaku untuk kubelikan kertas. Aku pun biasa mencari tulang-belulang, tembikar, tulang punuk unta, atau pelepah pohon kurma, lalu kutulis hadits di situ. Bila telah penuh, kusimpan dalam tempayan (guci) yang ada di rumah kami. Karena banyaknya tempayan terkumpul, ibuku berkata, 'Tempayan-tempayan ini membuat sempit rumah kita.' Maka kuambil tempayan-tempayan itu dan kuhafalkan apa yang tertulis di dalamnya, lalu aku membuangnya. Sampai kemudian Allah memberiku kemudahan untuk berangkat menuntut ilmu ke negeri Yaman." (Waratsatul Anbiya', hal. 36)

*Kuttab adalah tempat anak-anak kecil belajar baca-tulis Al-Qur'an, semacam TPA/Q di Indonesia

Subhanallah...

Baca artikel selengkapnya disini


Read more...

Dasar-dasar Memahami Tauhid

>> Wednesday, June 24, 2009

(Syaikh Muhammad At Tamimi)

Rangkuman kajian Ust abu Fairoz
Setiap Ahad pekan ke-2 ba'da Asar, masjid kampung Siglap, Singapura

Kemurnian akidah akan mampu dicapai apabila memahami 4 kaidah yang telah Allah nyatakan dalam firmanNya.

  1. Kita harus mengetahui bahwa orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah, mereka meyakini Allah sebagai pencipta, pemberi rizki, yang menghidupkan dan mematikan, yang memberi manfaat dan mudhorot, yang mengatur segala urusan. Tetapi semuanya itu tidak menyebabkan mereka sebagai muslim.
    Dalil: QS Yunus: 31

  2. Kaum musyrikin berkata, "Kami tidak berdo'a kepada mereka (nabi, orang-orang sholeh) kecuali agar bisa mendekatkan diri kepada Allah dan mereka nantinya akan memberi syafa'at. Maksud kami adalah kepada Allah, bukan kepada mereka. Namun hal tersebut dilakukan dengan cara melalui syafa'at dan mendekatkan diri kepada mereka."
    Dalil: QS Az Zumar: 3, QS Yunus: 18

    Namun kita harus memahami bahwa syafa'at ada 2 yaitu syafa'at yang ditolak dan diterima. Syafa'at yang ditolak adalah syafa'at yang dicari dari selain Allah (QS Al Baqoroh: 254). Sedangkan syafa'at yang diterima adalah syafa'at yang dicari dari Allah dimana si pemberi syafa'at dimuliakan oleh syariat dan orang yang diberi syafa'at adalah orang yang dirihoi oleh Allah (QS Al Baqoroh: 255). Sehingga perbuatan/alasan (yang dibuat-buat) mereka tersebut adalah tidak dibenarkan.

  3. Sesungguhnya Nabi sholallahu'alaihi wasallam menerangkan kepada manusia tentang macam-macam system peribadatan yang dilakukan oleh manusia. Diantaranya mereka yang menyembah matahari dan bulan, menyembah orang-orang shaleh, malaikat, wali, pepohonan dan bebatuan. Mereka semua diperangi oleh Rasulullah.
    Dalil: QS Al Baqoroh: 193, QS Fushilat: 37, QS Al Ishra': 56-57, QS Sabaa': 40-42, QS Al Maidah: 116-118, QS Al A'raf: 138-140

  4. Sesungguhnya kaum musyrik zaman sekarang adalah lebih parah kesyirikannya dibanding zaman dahulu. Sebab kaum musyrikin zaman dahulu, mereka berdoa secara ikhlas kepada Allah ketika mereka ditimpa bahaya akan tetapi mereka berbuat syirik ketika mereka dalam keadaan senang. Sedangkan kaum musyrikin zaman sekarang, mereka terus menerus berbuat syirik baik dalam bahaya maupun senang.
    Dalil: QS Al Ankabut: 65-66

Read more...

Moving House...

>> Tuesday, June 16, 2009

Belum mulai ngepack, udah pusing duluan...

Read more...

  © Blogger template by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP