Showing posts with label Tauhid. Show all posts
Showing posts with label Tauhid. Show all posts

Libatkan Allah Dalam Setiap Aspek Kehidupan

>> Wednesday, July 25, 2018

Para penuntut ilmu seharusya melibatkan Allah dalam setiap aspek kehidupannya. Perbesar rasa tawakkal dan ketergantungan kepada Allah.

Dikit-dikit tanya Allah...
Dikit-dikit minta sama Allah...
Dikit-dikit konsultasi sama Allah...
Angkat tangan doa sama Allah...

Dalam menghadapi setiap permasalahan,  istighfar dulu, doa & minta pertolongan Allah dulu, baru tanya ustadz atau baca dalil. Karena hidayah dan taufik hanyanya milik Allah.

Betapa banyak orang yang tetap tersesat walau banyak dalil atau artikel yang dia baca dan sudah banyak ustadz yang dia tanya. Naudzubillahi min dzalik...

Kajian Ustadz Nuzul Dzikri
Link in youtube : https://www.youtube.com/watch?v=jYU6q17LN5w

Read more...

3 Penyebab Sulitnya Ikhlas

1. Karena kita suka dengan pujian
2. Karena kita tamak terhadap dunia
3. Karena kita tidak suka dicela orang

Kajian Ustadz Nuzul Dzikri
Link in youtube : https://www.youtube.com/watch?v=BJo6eMpOnzs

Read more...

Ridlo Allah Saja Tujuan Kita

>> Sunday, January 08, 2017

@Jumat malam sebelum lomba tahfidz

Ayah Bunda: Nak, niatkan belajarnya kalian, semangatnya kalian menghafal quran, hanya untuk mencari ridlo Allah saja ya. Bukan untuk cari piala. Kalau ternyata kalian menang dan dapat piala, itu hanya bonus.

Anak-anak: Jadi ayah bunda ngga papa kalau kita ngga dapet piala?

Ayah Bunda: Ya ngga papa, karena kalau niat kalian ikhlas, pahala dari Allah akan tetap untuk kalian nanti di akhirat. Niatkan semua perbuatan baik kalian hanya untuk mencari ridlo Allah saja, oke?

#AIS tahfidz camp 5-7 Jan 2017
Hasilnya: Khansa juara 2 kategori 1.5 juz akhwat, Hudzaifa juara 2 kategori 1 juz ikhwan dan Syifa belum mendapat piala, alhamdulillah.

Syifa sempat sedih dalam perjalanan pulang di mobil, lalu dihibur kk Khansa dan adek Hudza, "Ngga papa Syif, kan tetep dapet pahala dari Allah, ya kan. Jangan nangis Syif."
[masyaaAllah, bunda dengernya terharu]

Kk Khansa pun sebetulnya agak kecil hati karena masih di kategori 1.5 juz sementara teman-temannya yang kelas 5 sudah di kategori 2.5 juz. Bagi ayah bunda... kami sangat bersyukur dengan pencapaian kalian semua saat ini, masyaa Allah, atas ijin dan kemudahan dari Allah.

#Penanaman mengenai iman/tauhid, adab dan akhlaq saat ini bagi ayah bunda lebih prioritas


Read more...

Al Ghaniyy

>> Thursday, September 08, 2016

Al Ghaniyy, arti yang tepat adalah Yang Maha Tidak Membutuhkan Apapun

#selama ini taunya maha kaya
#maha kaya bukan arti yang tepat

Read more...

Ikhlas Itu...

>> Wednesday, September 07, 2016

Ikhlas itu seperti surah Al Ikhlas.... tidak ada kata-kata ikhlas di dalamnya.

Bener banget...

[original source unknown]

Read more...

Jangan - Jangan Hidup Kita Ini Penuh Kesyirikan?

>> Tuesday, September 06, 2016

Selama ini kalau dengar kata syirik, biasanya asosiasinya ke perdukunan, klenik, kejawen, sesajen dan sejenisnya.

Sampai suatu saat rasanya seperti diingatkan kembali...
Di dalam salah satu kajiannya, di sesi tanya jawab, Ustadz Rahmat menyampaikan bahwa jangan sampai kita lengah soal syirik ini. Tanyakan pada masing-masing diri apakah betul kita sudah bertauhid secara utuh? Jangan-jangan hari-hari kita masih dipenuhi oleh syirik, terutama syirik irodah...

Syirik irodah itu adalah syirik yang, kata Ibnul Qoyyim, seperti lautan tak bertepi, sulit sekali mencari ujung pangkalnya dan sangat berbahaya karena bisa menenggelamkan manusia. Sedikit orang yang bisa selamat darinya.

Syirik irodah adalah syirik niat/keinginan. RIYA dan SUM'AH adalah contohnya. Beramal dengan niat tidak murni hanya mengharap ridlo Allah, beramal karena ingin dunia, beramal karena ingin dipuji manusia... dan ini termasuk syirik besar yang konsekuensinya tidak akan diampuni oleh Allah, diharamkan surga dan dapat menghapuskan pahala seluruh amal.

Naudzubillah min dzalik...

Ya Allah... padahal hati ini lemah dan masih mudah terbuai oleh dunia yg semu...
Astaghfirulloh

#belajartauhid
#tauhidterus
#tauhidlagi

Read more...

Dasar-dasar Memahami Tauhid

>> Wednesday, June 24, 2009

(Syaikh Muhammad At Tamimi)

Rangkuman kajian Ust abu Fairoz
Setiap Ahad pekan ke-2 ba'da Asar, masjid kampung Siglap, Singapura

Kemurnian akidah akan mampu dicapai apabila memahami 4 kaidah yang telah Allah nyatakan dalam firmanNya.

  1. Kita harus mengetahui bahwa orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah, mereka meyakini Allah sebagai pencipta, pemberi rizki, yang menghidupkan dan mematikan, yang memberi manfaat dan mudhorot, yang mengatur segala urusan. Tetapi semuanya itu tidak menyebabkan mereka sebagai muslim.
    Dalil: QS Yunus: 31

  2. Kaum musyrikin berkata, "Kami tidak berdo'a kepada mereka (nabi, orang-orang sholeh) kecuali agar bisa mendekatkan diri kepada Allah dan mereka nantinya akan memberi syafa'at. Maksud kami adalah kepada Allah, bukan kepada mereka. Namun hal tersebut dilakukan dengan cara melalui syafa'at dan mendekatkan diri kepada mereka."
    Dalil: QS Az Zumar: 3, QS Yunus: 18

    Namun kita harus memahami bahwa syafa'at ada 2 yaitu syafa'at yang ditolak dan diterima. Syafa'at yang ditolak adalah syafa'at yang dicari dari selain Allah (QS Al Baqoroh: 254). Sedangkan syafa'at yang diterima adalah syafa'at yang dicari dari Allah dimana si pemberi syafa'at dimuliakan oleh syariat dan orang yang diberi syafa'at adalah orang yang dirihoi oleh Allah (QS Al Baqoroh: 255). Sehingga perbuatan/alasan (yang dibuat-buat) mereka tersebut adalah tidak dibenarkan.

  3. Sesungguhnya Nabi sholallahu'alaihi wasallam menerangkan kepada manusia tentang macam-macam system peribadatan yang dilakukan oleh manusia. Diantaranya mereka yang menyembah matahari dan bulan, menyembah orang-orang shaleh, malaikat, wali, pepohonan dan bebatuan. Mereka semua diperangi oleh Rasulullah.
    Dalil: QS Al Baqoroh: 193, QS Fushilat: 37, QS Al Ishra': 56-57, QS Sabaa': 40-42, QS Al Maidah: 116-118, QS Al A'raf: 138-140

  4. Sesungguhnya kaum musyrik zaman sekarang adalah lebih parah kesyirikannya dibanding zaman dahulu. Sebab kaum musyrikin zaman dahulu, mereka berdoa secara ikhlas kepada Allah ketika mereka ditimpa bahaya akan tetapi mereka berbuat syirik ketika mereka dalam keadaan senang. Sedangkan kaum musyrikin zaman sekarang, mereka terus menerus berbuat syirik baik dalam bahaya maupun senang.
    Dalil: QS Al Ankabut: 65-66

Read more...

DAI

>> Saturday, March 21, 2009

Dauroh Anak Islam...
Di radio Hang 106FM Batam, setiap Ahad pagi jam 10.00 WIB.

Subhanallah... bagus.

Mbak Khansa dengerin ustadz cerita, "Allah itu hebat, Allah ciptakan matahari, bulan, bintang. Allah itu Maha Besar."

Mbak lalu tanya Bunda, "Allah itu Maha Besar Bun?"
"Iya Allah Maha Besar mbak," jawab Bunda.
Mbak masih bingung, "Kok Maha?"
"Iya, Maha Besar itu artinya sangat besar, maha hebat, sangat hebat," jawab Bunda.
Lalu mbak tanya lagi, "Allah itu besar sekali Bun? kaya dinosaur?" (gara-gara habis lihat patung dinosaur di Science Center nih)

(Hiks, Bunda bingung jelasinnya...)

Read more...

Khansa, belajar Rukun Iman ya nak....

>> Thursday, May 24, 2007

Ayah Bunda ingin Khansa memiliki aqidah yang lurus, jadi AyBun sudah harus siap2 untuk mendidik Khansa tentang aqidah yang benar sejak dini. Salah satunya dengan mengenalkan rukun iman. Bunda rasa ngga cukup kalau nanti Khansa hanya hafal saja, tapi Bunda berharap dan berdoa semoga Khansa nanti bisa benar2 memahami dan mengamalkannya.

1. Iman kepada Allah
Khansa sayang... Allah itu satu nak, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan tidak ada sesembahan lain bersama-Nya. Kalau di bumi dan langit ada sesembahan selain-Nya, tentu keduanya akan rusak.

Bunda ingin nanti kalau Khansa belajar Al Quran, yang dipelajari pertama adalah surat Al-Ikhlas (1-4) dan alangkah bahagianya Bunda kalau Khansa bisa hafal bacaan sekaligus artinya. "Katakanlah, 'Allah itu satu. Yang menjadi sandaran semua makhluk. Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.' "

Khansa sayang..., jangan sekali2 Khansa berbuat syirik atau menyekutukan Allah karena syirik adalah dosa terbesar yang tak terampuni.

Khansa sayang..., Khansa tau siapa Allah? Allah adalah Rabb kita, Dialah yang mencipta dan memberi rezeki, yang menghidupkan dan mematikan, memuliakan dan menghinakan, yang mengangkat dan merendahkan kita semua, manusia.

Khansa juga harus kenal nama-nama Allah yang indah dan sifat-sifatNya yang luhur (sesuai dengan manhaj ahlus sunnah wal jamaah dari kalangan sahabat Rasulullah dan tabiin yang datang setelah mereka).

O iya, Khansa juga harus tau bahwa Allah itu bersemayam di atas 'Arsy (Thaha: 5) dan pengetahuan Allah itu meliputi segala sesuatu (Thaha: 98) nak...

Ada sebuah cerita yang Khansa bisa ambil pelajaran tentang tauhid ini, ada seorang budak perempuan yang ditanya oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, "Di mana Allah?" Dia menjawab, "Di langit." Nabi lalu memerintahkan majikan budak itu untuk membebaskannya karena dia seorang perempuan yang beriman.

2. Iman kepada Malaikat
Khansa sholihah..., setelah Khansa mengenal dan mengimani Allah, yang kedua Khansa harus tau bahwa iman kepada malaikat adalah wajib dan membenarkan keberadaan mereka adalah suatu keharusan.

Siapa malaikat itu? Malaikat itu hamba-hamba Allah yang mulia, yang bertasbih siang dan malam dengan tidak bosan, tidak menyombongkan diri dari ketaatan dan ibadah kepada Allah, bahkan mereka takut kepada-Nya.

Allah lah yang menciptakan malaikat dari cahaya. Mereka punya tugas-tugas yang mereka jalankan dengan sebaik-baiknya. Ada yang memikul 'Arsy, ada yang menjadi utusan-utusan antara Allah dan para nabi. Ada yang mencatat amal dan menjaga catatan amal para hamba. Ada malaikat maut yang bertugas mencabut nyawa manusia jika telah sampai ajalnya. Ada malaikat penjaga gunung dan awan. Ada yang bertugas menghadiri majelis zikir dan ilmu, menghadiri salat lima waktu dan Jumat, menguatkan hati orang-orang beriman ketika perang dengan izin Allah, menenangkan dan memberi kabar gembira orang-orang yang beriman ketika akan meninggal, menyiksa orang-orang kafir sejak keluarnya ruh, mengangkat ruh ke langit, menanyai para hamba di alam kubur, memintakan ampunan untuk orang-orang yang beriman, dan mendoakan mereka masuk surga.

Ada pula malaikat yang menjaga surga dan neraka. Penjaga neraka adalah malaikat yang keras dan kasar, yang tidak durhaka kepada Allah dan selalu menjalankan perintah-Nya. Para malaikat tidak masuk rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar bernyawa. Para malaikat juga mendengarkan bacaan Al-Quran, dan banyak lagi tugas lain yang dibebankan kepada mereka. Jadi Khansa harus jadi anak sholihah ya... yang taat sama Allah dan rasulnya, yang rajin sholat dan baca Quran... (doa Bunda kepadaNya).

Khansa tau... malaikat itu mempersaksikan keesaaan Allah dan kerasulan para Rasul-Nya. Malaikat juga menolong orang-orang yang beriman dengan izin Allah dan memberi syafaat orang-orang yang beriman dan bertauhid di hari kiamat dengan izin Allah. Satu lagi anakku sayang..., malaikat bukanlah perempuan sebagaimana yang disangka orang-orang kafir.

Ingatlah nak... para malaikat selalu mengawasi kita, mencatat amal dan ucapan kita, sebagaimana firman Allah, "Tidaklah satu ucapan pun diucapkan kecuali ada malaikat yang mengawasi dan mencatatnya." (Al-Qof: 18)

3. Iman kepada Kitab-kitab Allah
Khansa pinter..., Allah azza wa jalla telah menurunkan sejumlah kitab kepada para Rasul-Nya, untuk diajarkan kepada umatnya. Di dalamnya Allah memerintahkan mereka untuk bertauhid, beriman kepada-Nya dan para rasul-Nya, dan menerangkan perkara-perkara yang halal dan haram.

Ada juga kabar-kabar tentang orang-orang sebelum mereka, hukum yang berlaku di tengah-tengah mereka, serta dakwah kepada semua kebaikan dan peringatan dari semua kejelekan, kekafiran dan kesesatan.

Di antara kitab-kitab itu adalah Taurat yang diturunkan kepada Musa, Injil kepada Isa, dan Al-Quran kepada Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Khansa nanti hafal ya...

4. Iman kepada Para Rasul
Sudah kenal Allah, malaikat, dan kitab Allah, sekarang Khansa harus kenal juga para Nabi dan Rasul. Mereka diutus oleh Allah azza wa jalla kepada manusia untuk memerintahkan mereka agar bertauhid, memberi kabar gembira dengan surga bagi orang-orang yang taat di antara mereka, dan memperingatkan mereka dari syirik dan kemaksiatan.

Allah telah memilih di antara Rasul-Nya sebagai ulul azmi, yaitu Ibrahim, Nuh, Musa, Isa dan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Hafalkan ya sayang...

Suatu saat nanti insya Allah Bunda akan ceritakan tentang kisah-kisah dan mukjizat yang dimiliki para Rasul itu, pasti Khansa suka...

Khansa sayang... iman kepada seluruh rasul dan nabi adalah wajib. Barangsiapa ingkar kepada salah satunya, maka telah kafir kepada semuanya. Semua rasul mendakwahkan satu agama yaitu menyembah Allah semata, menjauhi setan dan kesyirikan. Allah berfirman, "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus dalam setiap umat seorang rasul untuk menyeru kaumnya, 'Sembahlah Allah saja dan jauhilah thaghut.' " (An-Nahl: 36)

Penutup para rasul itu adalah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dan tidak ada rasul lagi setelah beliau.

5. Iman kepada Hari Kiamat
Rukun iman yang kelima adalah iman kepada hari kiamat. Sayang..., kelak akan ada perhitungan, pahala dan siksa, jadi Khansa harus jadi anak baik dan jauhi kejelekan.

Khansa yang dieman2 Bunda... iman kepada hari akhir meliputi 3 hal (yang ini Khansa juga harus ingat baik2):
Pertama, mengimani adanya kebangkitan (ba'ts) yaitu dihidupkannya kembali orang-orang yang sudah mati tatkala ditiupkan sangkakala untuk kedua kalinya. Pada hari itu seluruh manusia bangkit untuk menghadap Rabb semesta alam dalam keadaan telanjang.

Kedua, mengimani adanya hisab (perhitungan) dan jaza' (balasan). Seluruh amal perbuatan hamba akan dihisab dan diberi balasan.

Ketiga, mengimani adanya surga dan neraka.

Suatu saat nanti Khansa minta Ayah ceritakan tentang surga dan isinya ya... Ayah Bunda ingiiiin sekali masuk ke dalamnya, Khansa juga pasti ingin. Surga itu isinya hanya kenikmatan dan kenikmatan yang kekal bagi penghuninya. Subhanallah...

Suatu saat nanti minta juga Ayah ceritakan tentang neraka dan isinya yang disediakan bagi orang-orang kafir dan pendosa, supaya Khansa takut dan senantiasa menjauhinya.

6. Iman kepada Takdir

Khansa cinta... perkara-perkara yang berjalan dalam kehidupan ini semuanya telah ditakdirkan dan ditulis.

"Dan bila suatu musibah mengenai dirimu, maka jangan kamu katakan, 'Seandainya aku lakukan ini dan ini.' Tetapi katakanlah, 'Qaddarallahu wa ma sya'a fa'ala' (Allah telah takdirkan dan apa-apa yang Dia kehendaki Dia kerjakan).' Sesungguhnya kata law (seandainya) akan membuka perbuatan setan.' " (Riwayat Muslim)

Khansa tau ngga..., bahwa kebaikan dan kejelekan itu telah ditakdirkan. Demikian juga rezeki, telah ditakdirkan dan dibagi-bagi. Allah lah yang memberi hidayah dan penjagaan-penjagaan itu datangnya dari Allah. Ajal dan umur telah ditakdirkan, dan musibah telah ditulis dan ditakdirkan.

Khansa harus ridha dengan semua ketentuan-ketentuan Allah pada setiap keadaan. Kalau Khansa sakit, terkena sesuatu, atau kehilangan sesuatu, semua itu telah ditakdirkan. Tapi Khansa juga harus ingat bahwa Allah telah menciptakan sebab dan akibat, karena itu jangan lupa untuk melakukan sebab-sebab kebaikan.

Wallahu'alam.
Bunda Khansa

Sumber bacaan:
Majalah nikah rubrik bina anak shalih

Read more...

Cahaya Ilmu

>> Monday, May 21, 2007

dicuplik dari sini

Hmm mungkin ini bisa menjadi jawaban untuk artikel "Islamic world must do better job of pursuing knowledge" yang beberapa waktu lalu diposting di milis min62. Waktu pertama kali baca, cukup terusik pengen komentar tapi belum nemu kata2 yang pas, nah artikel ini rasanya cukup telak untuk menjawabnya.

"Ngga perlu lah jungkir balik belajar bikin transistor tercepat sedunia tapi sholat aja belum bener."
(serasa menabrak diri sendiri)
----------------------------------------------------------------
Sebagian besar umat Islam sekarang ini hatinya merasa takut dan gemetar melihat kemajuan dan kecanggihan teknologi yang dimiliki orang kafir. Gentar akan kehebatan dan kejeniusan mereka dalam hal IPTEK. Memang betapa silau rasanya mata kita melihat gemerlap kemajuan mereka, dan hal itu seringkali menggelitik sebagian di antara kita untuk jatuh bangun berlari mengejar "ketertinggalan" kita dari mereka. Maka berlomba-lomba kita belajar ilmu teknologi, kedokteran, kesehatan, pertanian, siang dan malam. Sayangnya, banyak yang jadi berlebih-lebihan dan beranggapan bahwa kemuliaan Islam akan diraih dengan menguasai ilmu-ilmu tersebut. Benarkah demikian?

Sesungguhnya kemuliaan itu memang tidak akan dapat tercapai tanpa ilmu. Namun ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu syar'i, sebab hakikat kemuliaan sejati adalah menurut pandangan Allah Ta'ala. Maka siapakah orang yang mulia dalam pandangan Allah? Orang yang paling mulia dalam pandangan Allah adalah orang yang berilmu dan dengan ilmunya tersebut ia beriman serta bertaqwa pada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Syaikh Abdul Malik Ar-Ramadhani rahimahullah juga telah menukilkan sebuah perkataan yang indah dari Al-'Alamah Ibnul Qayyim Al-Jauziah rahimahullah dalam kitabnya Sittu Duror:
"Kemuliaan ilmu itu tergantung pada apa yang dibahas, dan tidak ragu lagi bahwa ilmu yang paling mulia dan paling agung adalah ilmu bahwa Allah adalah Dzat yang tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Dia Rabbul 'Alamin, yang menegakkan langit-langit dan bumi, Raja yang haq dan nyata, yang memiliki seluruh sifat kesempurnaan dan jauh dari segala cacat dan kekurangan serta dari segala penyamaan dan penyerupaan dalan kesempurnaan-Nya. Juga tidak ragu lagi bahwa ilmu tentang Allah, tentang nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya serta perbuatan-Nya adalah ilmu yang paling mulia dan agung."

Perkataan beliau tersebut menyiratkan bahwa ilmu yang paling utama adalah ilmu tentang tauhid, sebagaimana perkataan beliau selanjutnya:
"Dan ilmu tentang Allah merupakan pokok serta dasar pijakan semua ilmu. Bararangsiapa mengenal Allah, dia akan mengenal yang selain-Nya dan barangsiapa yang tidak mengenal Rabb-Nya, terhadap yang lain dia lebih tidak mengenal lagi."

Mengapa ilmu tentang tauhid begitu penting kedudukannya menurut pandangan para ulama?

Syaikh Abdul Aziz bin Adullah bin Baz mengatakan dalam kitabnya Al-Ilmu wa Akhlaaqu Ahlih (edisi Indonesia: Ilmu dan Akhlak Ahli Ilmu):
Bukanlah tujuan berilmu itu agar engkau menjadi seorang 'alim atau agar engkau diberi ijazah yang diakui dalam suatu bidang ilmu. Namun tujuan di belakang semua itu adalah supaya engkau beramal dengan ilmu yang engkau miliki, agar engkau mengarahkan manusia kepada kebaikan.


Beliau menyebutkan:
Karena dengan ilmu-lah seseorang sampai pada pengetahuan tentang kewajiban yang paling utama dan paling agung, yaitu men-tauhid-kan Allah dan mengikhlaskan ibadah untuk-Nya. Sebagaimana sudah kita ketahui bahwa Islam didirikan atas lima dasar yang disebut rukun Islam, dan dasar yang pertama adalah syahadah Laa Ilaha illallah (tidak ada sesembahan yang haq selain Allah) yang melahirkan konsekuensi bagi yang mengucapkannya untuk beriman pada Allah dan hanya beribadah kepada-Nya.


Allah berfirman dalam kitab-Nya yang artinya:
"Sembahlah Allah olehmu sekalian, sekali-kali tidak ada sesembahan yang haq selain daripada-Nya. Maka, mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)." (QS. Al-Mukminuun: 32)

to SUMMARIZE....
  • Ilmu yang paling agung: tauhid, pijakan segala ilmu
  • Berilmu melahirkan konsekuensi untuk beriman dan beribadah kepada Allah
  • Tujuan berilmu adalah untuk beramal dan mengajak manusia kepada kebaikan

Read more...

>> Monday, July 10, 2006




Cukuplah Allah bagi kita dan IA adalah sebaik-baik pelindung








Tidak ada daya kekuatan kecuali melalui Allah

Read more...

Riya itu samar

>> Wednesday, November 09, 2005

Sumber: muslim.or.id
oleh: Ustadz Firanda

Sungguh benar sabda Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bahwasanya riya itu samar sehingga terkadang menimpa seseorang padahal ia menyangka bahwa ia telah melakukan yang sebaik-baiknya. Dikisahkan bahwasanya ada seseorang yang selalu sholat berjama'ah di shaf yang pertama, namun pada suatu hari ia terlambat sehingga sholat di saf yang kedua, ia pun merasa malu kepada jama'ah yang lain yang melihatnya sholat di shaf yang kedua. Maka tatkala itu ia sadar bahwasanya selama ini senangnya hatinya, tenangnya hatinya tatkala sholat di shaf yang pertama adalah karena pandangan manusia. (Tazkiyatun Nufus hal 15).

Berkata Abu 'Abdillah Al-Anthoki, "Fudhail bin 'Iyadh bertemu dengan Sufyan Ats-Tsauri lalu mereka berdua saling mengingat (Allah) maka luluhlah hati Sufyan atau ia menangis. Kemudian Sufyan berkata kepada Fudhail, "Wahai Abu '‘Ali sesungguhnya aku sangat berharap majelis (pertemuan) kita ini rahmat dan berkah bagi kita", lalu Fudhail berkata kepadanya, "Namun aku, wahai Abu Abdillah, takut jangan sampai majelis kita ini adalah suatu mejelis yang mencelakakan kita", Sufyan berkata, "Kenapa wahai Abu Ali?", Fudhail berkata, "Bukankah engkau telah memilih perkataanmu yang terbaik lalu engkau menyampaikannya kepadaku, dan akupun telah memilih perkataanku yang terbaik lalu aku sampaikan kepadamu, berarti engkau telah berhias untuk aku dan aku pun telah berhias untukmu", lalu Sufyan pun menangis dengan lebih keras daripada tangisannya yang pertama dan berkata, "Engkau telah menghidupkan aku semoga Allah menghidupkanmu". (Tarikh Ad-Dimasyq 48/404).

Perhatikanlah wahai saudaraku… sesungguhnya hanyalah orang-orang yang beruntung yang memperhatikan gerak-gerik hatinya, yang selalu memperhatikan niatnya. Terlalu banyak orang yang lalai dari hal ini kecuali yang diberi taufik oleh Allah. Orang-orang yang lalai akan memandang kebaikan-kebaikan mereka pada hari kiamat menjadi kejelekan-kejelekan, dan mereka itulah yang dimaksudkan oleh Allah dalam firman-Nya.

"Dan (jelaslah) bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokkannya." (QS. Az Zumar: 48).

"Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya." (QS. Al Kahfy: 104).

Read more...

Syuhroh (popularitas)

Sumber: muslim.or.id
Judul Asli: Ikhlas dan Bahaya Riya
Penulis: Ustadz Firanda

(artikel selengkapnya (panjang) silakan langsung ke muslim.or.id, subhanallah banyak artikel-artikel yang bagus)

Ketenaran (popularitas) memang mahal harganya. Betapa banyak orang yang rela mengorbankan banyak harta benda hanya karena untuk memperoleh ketenaran. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh para penyanyi, ataupun para bintang film. Mereka selalu berusaha tampil beda agar bisa menarik perhatian umat dunia. Bahkan ada yang rela untuk melakukan hal-hal yang aneh dan yang diharamkan oleh Allah hanya untuk memperoleh popularitas (sebagaimana penulis membaca pengakuan seorang wanita yang rela untuk berfoto setengah telanjang -bukan setengah lagi, tapi 90%, karena hanya tersisa beberapa utas benang atau secarik kain yang menutupi tubuhnya, "awas jangan dibayangkan!!"-, padalah dia hanya dibayar sangat rendah. Dia mengaku bahwasanya semua itu agar dia menjadi tenar. Na’udzu billahi min dzalik), yang toh setelah perjuangan dan pengorbanannya tersebut dia belum tentu tersohor. Kalaupun terkenal, toh belum tentu bertahan lama. Namun bagaimanapun popularitas merupakan sesuatu impian yang didambakan oleh banyak manusia (kafir maupun muslim).

Sebagaimana yang kita saksikan sekarang ini. Hampir seluruh keanehan-keanehan yang dilakukan oleh manusia sesungguhnya dikarenakan cinta popularitas. Kita lihat ada orang yang mengecet rambutnya bewarna warni, ada yang kepalanya setengah gundul dan setengahnya rambutnya panjang hingga bahunya dan dicat hijau (sebagaimana yang pernah dilihat oleh Syaikh Abdur Rozaq), ada yang rambutnya cuma ditengah saja panjang adapun sisanya gundul (sebagaimana penulis pernah lihat seorang dari tanah air yang model cukurannya seperti itu padahal dia lagi umroh), ada yang dipotong seperti warna macan tutul (botak gundul, botak gundul), ada yang tengahnya gundul dan kanan kiri kepalanya ada rambutnya, ada yang seluruh kepalanya gundul namun tersisia satu pelintiran yang panjang sekali, dan model-model yang lainnya yang banyak sekali dan aneh-aneh. Ini, padahal baru masalah rambut, belum masalah telinga, hiasan leher, apalagi model pakaian. Yang semua ini hanyalah dilakukan demi ketenaran. Demi Allah, seandainya salah satu dari mereka itu tinggal di hutan yang tidak ada manusianya sama sekali kecuali dia sendiri, dan dia hanya berteman binatang dan pepohonan, demi Allah dia tidak akan melakukan hal-hal aneh yang telah dia lakukan, karena tidak ada manusia yang memperhatikannya. Kalau dia tetap aneh juga maka dia akan terkenal diantara para hewan. Popularitas merupakan kenikmatan dunia yang mahal harganya.

Penyakit cinta ketenaran ternyata tidak hanya menimpa orang awam saja yang tidak mengetahui perkara-perkara agama, namun juga menjangkiti para ahli ibadah dan para penuntut ilmu syar'i. Walaupun memang bentuknya berbeda, namun hakekatnya sama adalah cinta popularitas. Ahli ibadah juga pingin kesungguhannya dalam beribadah diketahui oleh para ahli ibadah yang lain, ahli ilmu pun ingin orang lain tahu bahwasanya dia adalah seorang yang pandai, sehingga akhirnya martabatnya tinggi dihadapan manusia. Penyakit inilah yang dalam kamus agama disebut penyakit riya' (pingin dilihat orang) dan sum'ah (pingin didengar orang).

Manusia begitu bersemangat untuk menutupi kejelekan-kejelekan mereka, mereka tutup sebisa mungkin, kejelekan sekecil apapun, dibungkus rapat jangan sampai ketahuan. Hal ini dikarenakan mereka menginginkan mendapatkan kehormatan dimata manusia. Dengan terungkapnya kejelekan yang ada pada mereka maka akan turun kedudukan mereka di mata manusia. Seandainya mereka juga menutupi kebaikan-kebaikan mereka, -sekecil apapun kebaikan itu, jangan sampai ada yang tahu, siapapun orangnya (saudaranya, sahabat karibnya, guru-gurunya, anak-anaknya, bahkan istrinya) tidak ada yang mengetahui kebaikannya- , tentunya mereka akan mencapai martabat mukhlisin (orang-orang yang ikhlas). Mereka berusaha sekuat mungkin agar yang hanya mengetahui kebaikan-kebaikan yang telah mereka lakukan hanyalah Allah. Karena mereka hanya mengharapkan kedudukan di sisi Allah.

Berkata Abu Hazim Salamah bin Dinar "Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan kejelekan-kejelekanmu." (Berkata Syaikh Abdul Malik Romadhoni , "Diriwayatkan oleh Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa At-Tarikh (1/679), dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (3/240), dan Ibnu ‘Asakir dalam tarikh Dimasyq (22/68), dan sanadnya sohih". Lihat Sittu Duror hal. 45).

Dalam riwayat yang lain yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu'ab Al-Iman no 6500 beliau berkata, "Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagiamana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu, dan janganlah engkau kagum dengan amalan-amalanmu, sesungguhnya engkau tidak tahu apakah engkau termasuk orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang bahagia (masuk surga)".

Berkata Syaikh Abdul Malik, "Namun mengapa kita tidak melaksanakan wasiat Abu Hazim ini?? Kenapa??, hal ini menunjukan bahwa keikhlasan belum sampai ke dalam hati kita sebagaimana yang dikehendaki Allah" (Dari ceramah beliau yang berjuduk ikhlas).

Oleh karena itu banyak para imam salaf yang benci ketenaran. Mereka senang kalau nama mereka tidak disebut-sebut oleh manusia. Mereka senang kalau tidak ada yang mengenal mereka. Hal ini demi untuk menjaga keihlasan mereka, dan karena mereka kawatir hati mereka terfitnah tatkala mendengar pujian manusia.

Berkata Hammad bin Zaid: "Saya pernah berjalan bersama Ayyub (As-Sikhtyani), maka diapun membawaku ke jalan-jalan cabang (selain jalan umum yang sering dilewati manusia-pen), saya heran kok dia bisa tahu jalan-jalan cabang tersebut ?! (ternyata dia melewati jalan-jalan kecil yang tidak dilewati orang banyak) karena takut manusia (mengenalnya dan) mengatakan, "Ini Ayyub" (Berkata Syaikh Abdul Malik Romadhoni: "Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad (7/249), dan Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa At-Tarikh (2/232), dan sanadnya shahih." (Sittu Duror hal 46)).

Berkata Imam Ahmad: "Aku ingin tinggal di jalan-jalan di sela-sela gunung-gunung yang ada di Mekah hingga aku tidak dikenal. Aku ditimpa musibah ketenaran". (As-Siyar 11/210).

Tatkala sampai berita kepada Imam Ahmad bahwasanya manusia mendoakannya dia berkata: "Aku berharap semoga hal ini bukanlah istidroj". (As-Siyar 11/211).

Imam Ahmad juga pernah berkata tatkala tahu bahwa manusia mendoakan beliau: "Aku mohon kepada Allah agar tidak menjadikan kita termasuk orang-orang yang riya". (As-Siyar 11/211).

Pernah Imam Ahmad mengatakan kepada salah seorang muridnya (yang bernama Abu Bakar) tatkala sampai kepadanya kabar bahwa manusia memujinya: "Wahai Abu Bakar, jika seseorang mengetahui (aib-aib) dirinya maka tidak bermanfaat baginya pujian manusia". (As-Siyar 11/211).

Berkata Hammad, "Pernah Ayyub membawaku ke jalan yang lebih jauh, maka akupun perkata padanya, "Jalan yang ini yang lebih dekat", maka Ayyub menjawab: "Saya menghindari majelis-majelis manusia (menghindari keramaian manusia-pen)".

Dan Ayyub jika memberi salam kepada manusia, mereka menjawab salamnya lebih dari kalau mereka menjawab salam selain Ayyub. Maka Ayyub berkata: "Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa saya tidaklah menginginkan hal ini !, Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa saya tidaklah menginginkan hal ini!" Berkata Syaikh Abdul Malik: "Diriwayatkan oleh Ibnu Sa'd (7/248) dan Al-Fasawi (2/239), dan sanadnya shahih". (Sittu Duror hal 47).

Berkata Abu Zur'ah Yahya bin Abi 'Amr, “Ad-Dlohhak bin Qois keluar bersama manusia untuk sholat istisqo (sholat untuk minta hujan), namun hujan tak kunjung datang, dan mereka tidak melihat adanya awan. Maka beliau berkata: "Dimana Yazid bin Al-Aswad?" (Dalam riwayat yang lain: Maka tidak seorangpun yang menjawabnya, kemudian dia berkata: "Dimana Yazid bin Al-Aswad?, Aku tegaskan padanya jika dia mendengar perkataanku ini hendaknya dia berdiri", maka berkata Yazid :"Saya di sini!", berkata Ad-Dlohhak: "Berdirilah!, mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan bagi kami!" Maka Yazid pun berdiri dan menundukan kepalanya diantara dua bahunya, dan menyingsingkan lengan banjunya lalu berdoa: "Ya Allah, sesungguhnya para hambaMu memintaku untuk berdoa kepadaMu". Lalu tidaklah dia berdoa kecuali tiga kali kecuali langsung turunlah hujan yang deras sekali, hingga hampir saja mereka tenggelam karenanya. Kemudian dia berkata: "Ya Allah, sesungguhnya hal ini telah membuatku menjadi tersohor, maka istirahatkanlah aku dari ketenaran ini", dan tidak berselang lama yaitu seminggu kemudian diapun meninggal." Lihat takhrij kisah ini secara terperinci dalam buku Sittu Duror karya Syaikh Abdul Malik Romadloni hal. 47.

Lihatlah wahai saudaraku, bagaimana Yazid Al-Aswad merasa tidak tentram dengan ketenarannya bahkan dia meminta kepada Allah agar mencabut nyawanya agar terhindar dari ketenarannya. Ketenaran di mata Yazid adalah sebuah penyakit yang berbahaya, yang dia harus menghindarinya walaupun dengan meninggalkan dunia ini. Allahu Akbar.. ! inilah akhlak salaf (Berkata Guru kami Syaikh Abdul Qoyyum, "Adapun orang-orang yang memerintahkan para pengikutnya atau rela para pengikutnya mencium tangannya lalu ia berkata bahwa ia adalah wali Allah maka ia adalah dajjal"). Namun banyak orang yang terbalik, mereka malah menjadikan ketenaran merupakan kenikmatan yang sungguh nikmat sehingga mereka berusaha untuk meraihnya dengan berbagai macam cara.

Dari Abu Hamzah Ats-Tsumali, beliau berkata: "Ali bin Husain memikul sekarung roti diatas pundaknya pada malam hari untuk dia sedekahkan, dan dia berkata, "Sesungguhnya sedekah dengan tersembunyi memadamkan kemarahan Allah". Ini merupakan hadits yang marfu' dari Nabi, yang diriwayatkan dari banyak sahabat, seperti Abdullah bin Ja’far, Abu Sa’id Al-Khudri, Ibnu Abbas, Ibnu Ma'ud, Ummu Salamah, Abu Umamah, Mu'awiyah bin Haidah, dan Anas bin Malik. Berkata Syaikh Al-Albani: "Kesimpulannya hadits ini dengan jalannya yang banyak serta syawahidnya adalah hadits yang shahih, tidak diragukan lagi. Bahkan termasuk hadits mutawatir menurut sebagian ahli hadits muta'akhirin" (As-Shohihah 4/539, hadits no. 1908).

Dan dari 'Amr bin Tsabit berkata, "Tatkala Ali bin Husain meninggal mereka memandikan mayatnya lalu mereka melihat bekas hitam pada pundaknya, lalu mereka bertanya: "Apa ini", lalu dijawab: "Beliau selalu memikul berkarung-karung tepung pada malam hari untuk diberikan kepada faqir miskin yang ada di Madinah".
Berkata Ibnu 'Aisyah: "Ayahku berkata kepadaku: "Saya mendengar penduduk Madinah berkata: "Kami tidak pernah kehilangan sedekah yang tersembunyi hingga meninggalnya Ali bin Husain" Lihat ketiga atsar tersebut dalam Sifatus Sofwah (2/96), Aina Nahnu hal. 9.

Lihatlah bagaimana Ali bin Husain menyembunyikan amalannya hingga penduduk Madinah tidak ada yang tahu, mereka baru tahu tatkala beliau meninggal karena sedekah yang biasanya mereka terima di malam hari berhenti, dan mereka juga menemukan tanda hitam di pundak beliau.

Seseorang bertanya pada Tamim Ad-Dari "Bagaimana sholat malam engkau", maka marahlah Tamim, sangat marah, kemudian berkata, "Demi Allah, satu rakaat saja sholatku ditengah malam, tanpa diketahui (orang lain), lebih aku sukai daripada aku sholat semalam penuh kemudian aku ceritakan pada manusia" (Dinukil dari kitab Az- Zuhud, Imam Ahmad).

Tidak seorangpun diantara kita yang meragukan akan kesungguhan para sahabat dalam beribadah. Namun walaupun demikian, mereka tidaklah ujub, atau memamerkan amalan mereka kapada manusia, jauh sekali dengan kita. Adapun sebagian kita (atau sebagian besar, atau seluruhnya (kecuali yang dirahmati oleh Allah), Allahu Al-Musta'an, sudah amalannya sedikit, namun diceritakan kemana-mana (Bahkan kalau bisa orang sedunia mengetahuinya).

Ada yang berkata, "Dakwah saya disana…, disini…", ada juga yang berkata, "Yang menghadiri majelis saya jumlahnya sekian dan sekian…" (padahal kalau dihitung belum tentu sebanyak yang disebutkan, atau memang benar yang hadir majelisnya banyak tetapi tidak selalu. Terkadang yang hadir dalam sebagian majelisnya cuma sedikit, namun tidak dia ceritakan, atau yang hadir banyak tapi pada ngantuk semua, juga tidak dia ceritakan. Pokoknya dia ingin gambarkan pada manusia bahwa dia adalah da'i favorit), ada yang berkata, "Saya sudah baca kitab ini, kitab itu.. hal ini sebagaimana termuat dalam kitab ini atau kitab itu…"(padahal belum tentu satu kitabpun dia baca dari awal hingga akhir, atau bahkan belum tentu dia baca sama sekali secara langsung kitab itu. Namun dia ingin gambarkan pada manusia bahwa mutola’ahnya banyak, agar mereka tahu bahwa dia adalah orang yang berilmu dan gemar membaca). Yang mendorong ini semua adalah karena keinginan mendapat penghargaan dan penghormatan dari manusia.

Lihatlah Tamim Ad-Dari tidak membuka pintu yang bisa mengantarkannya terjatuh dalam riya, sehingga dia tidak mau menjawab orang yang bertanya tentang ibadahnya. Namun sebaliknya, sebagian kaum muslimin sekarang justru menjadikan kesempatan pertanyaan seperti itu untuk bisa menceritakan seluruh ibadahnya, bahkan menanti-nanti untuk ditanya tentang ibadahnya, atau dakwahnya, atau perkara yang lainnya.

Ayyub As-Sikhtiyani sholat sepanjang malam, dan jika menjelang fajar maka dia kembali untuk berbaring di tempat tidurnya. Dan jika telah terbit fajar maka diapun mengangkat suaranya seakan-akan dia baru saja bangun pada saat itu. (Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah 3/8).

Berkata Muhammad bin A'yun, "Aku bersama Abdullah bin Mubarok dalam peperangan di negeri Rum. Tatkala kami selesai sholat isya' Ibnul Mubarok pun merebahkan kepalanya untuk menampakkan padaku bahwa dia sudah tertidur. Maka akupun -bersama tombakku yang ada ditanganku- menggenggam tombakku dan meletakkan kepalaku diatas tombak tersebut, seakan-akan aku juga sudah tertidur. Maka Ibnul Mubarok menyangka bahwa aku sudah tertidur, maka diapun bangun diam-diam agar tidak ada sorangpun dari pasukan yang mendengarnya lalu sholat malam hingga terbit fajar. Dan tatkala telah terbit fajar maka diapun datang untuk membagunkan aku karena dia menyangka aku tidur, seraya berkata "Ya Muhammad bangunlah!", Akupun berkata: "Sesungguhnya aku tidak tidur". Tatkala Ibnul Mubarok mendengar hal ini dan mengetahui bahwa aku telah melihat sholat malamnya maka semenjak itu aku tidak pernah melihatnya lagi berbicara denganku. Dan tidak pernah juga ramah padaku pada setiap peperangannya. Seakan-akan dia tidak suka tatkala mengetahui bahwa aku mengetahui sholat malamnya itu, dan hal itu selalu nampak di wajahnya hingga beliau wafat. Aku tidak pernah melihat orang yang lebih menymbunyikan kebaikan-kebaikannya daripada Ibnul Mubarok" (Al-Jarh wa At-Ta’dil, Ibnu Abi Hatim 1/266).

Wahai saudaraku, ketahuilah… sesungguhnya ikhlas adalah sesuatu yang sangat berat, penuh perjuangan untuk bisa meraihnya. Pintu-pintu yang bisa dimasuki syaitan untuk bisa merusak keikhlasan kita terlalu banyak. Tatkala kita sedang beramal maka syaitanpun berusaha untuk bisa menjadikan kita riya', kalau tidak bisa menjadikan kita riya' di permulaan amal, maka dia akan berusaha agar kita riya' di pertengahan amal. Kalau tidak mampu lagi maka di akhir amalan kita. Oleh karena itu kita dapati para salaf dahulu mengecek niat mereka ditengah amalan mereka, apakah masih tetap ikhlas atau sudah berubah?

Diriwayatkan dari Sualaiman bin Dawud Al-Hasyimi: "Terkadang saya menyampaikan sebuah hadits dan niat saya ikhlas, (namun) tatkala saya sampaikan sebagian hadits tersebut berubahlah niat saya, ternyata satu hadits saja membutuhkan banyak niat" Disebutkan oleh Al-Khotib Al-Bagdadi dalam Tarikh beliau (9/31), Al-Mizzi dalam Tahdzibul Kamal (11/412), dan Ad-Dazahabi dalam Siyar (10/625), lihat Jami'ul 'Ulum wal Hikam hal 83, tahqiq Al-Arnauth).

Lihatlah bagaimana hati-hatinya salaf dalam menjaga niat mereka, untuk bisa menyampaikan satu hadits saja (yang mungkin hanya beberapa buah kata) dia memperhatikan niatnya berulang-ulang. Bagaimana dengan kita sekarang? Bukan cuma berpuluh-puluh kata yang kita lontarkan, bahkan beribu-ribu kata (tatkala mengisi pengajian, atau memberi pendapat atau nasehat tatkala diminta, atau yang lainnya…) pernahkah kita mengecek niat kita disela-sela pembicaraan kita??.

Terkadang seseorang di awal sedang mengisi pengajian, dia mendapati niatnya ikhlas. Namun tatkala di tengah pengajian, disaat dia memandang bagaimana para pendengarnya terkagum-kagum dengan kefasihannya melontarkan dalil disaat itulah syaitan berperan aktif untuk merubah niatnya. Waspadalah wahai para saudaraku… sesungguhnya hanya sedikit yang selamat dari tipu daya syaitan.

Sungguh benarlah perkataan Sufyan Ats-Tsauri, "Saya tidak pernah menghadapi sesuatu yang lebih berat daripada niat, karena niat itu berbolak-balik (berubah-ubah)" (Hilyatul Auliya (7/ hal 5 dan 62), lihat Jami'ul 'Ulul wal Hikam hal 70, tahqiq Al-Arnauth).

Kalau seseorang telah selamat dari tipu daya syaitan hingga selesai amalnya, ingatlah…syaitan tidak putus asa. Dia mulai menggelitik hati orang tersebut dan merayu orang tersebut untuk menceritakan amalan solehnya pada manusia, dan syaitan menipunya dengan berkata, "Ini bukanlah riya…, supaya kamu bisa dicontohi manusia…". Akhirnya terjebaklah orang tersebut dan diapun mengungkapkan kebaikan-kebaikannya dihadapan orang, maka bisa jadi diapun menceritakan kabaikan-kebaikannya pada manusia karena riya', maka ini merupakan kecelakaan baginya, atau kalau tidak maka minimal pahalanya berkurang. Karena pahala amalan yang sirr (disembunyikan) lebih baik daripada amalan yang diketahui orang lain.

Allah berfirman, yang artinya: "Jika kalian menampakkan sedekah kalian maka itu adalah baik sekali. Dan jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir maka menyembunyikanya itu lebih baik bagi kalian. Dan Allah akan menghapuskan dari kalian sebagian kesalahan-kesalahan kalian, dan Allah maha mengetahui apa yang kalian kerjakan." (QS. Al-Baqoroh: 271)

Berkata Ibnu Kasir dalam Tafsirnya, "Asalnya isror (amalan secara tersembunyi tanpa diketahui orang lain) adalah lebih afdol dengan dalil ayat ini dan hadits dalam shohihain (Bukhori dan Muslim) dari Abu Huroiroh, beliau berkata: "Berkata Rasulullah : "Tujuh golongan yang berada dibawah naungan Allah pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan Allah, Imam yang adil, dan seorang yang bersedekah lalu dia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya" Diriwayatkan oleh Al-Bukhori (1423) dan Muslim (2377).

Berkata Imam Nawawi: "Berkata para Ulama bahwanya penyebutan tangan kanan dan kiri menunjukan kesungguhan dan sangat disembunyikannya serta tidak diketuhinya sedekah. Perumpamaan dengan kedua tangan tersebut karena dekatnya tangan kanan dengan tangan kiri, dan tangan kanan selalu menyertai tangan kiri. Dan maknanya adalah seandainya tangan kiri itu seorang laki-laki yang terjaga maka dia tidak akan mengetahui apa yang diinfak oleh tangan kanan karena saking disembunyikannya." (Al-Minhaj 7/122), hal ini juga sebagaimana penjelasan Ibnu Hajr (Al-Fath 2/191).

Rosulullah bersabda: "Tatkala Allah menciptakan bumi, bumi tersebut bergoyang-goyang, maka Allah pun menciptakan gunung-gunung kalau Allah lemparkan gunung-gunung tersebut di atas bumi maka tenanglah bumi. Maka para malaikatpun terkagum-kagum dengan penciptaan gunung, mereka berkata, "Wahai Tuhan kami, apakah ada dari makhluk Mu yang lebih kuat dari gunung?" Allah berkata, "Ada yaitu besi". Lalu mereka bertanya (lagi), "Wahai Tuhan kami, apakah ada dari makhlukMu yang lebih kuat dari besi?", Allah menjawab, "Ada yaitu api.", mereka bertanya (lagi), "Wahai Tuhan kami, apakah ada makhluk Mu yang lebih kuat dari pada api?", Allah menjawab, "Ada yaitu air", mereka bertanya (lagi), "Wahai Tuhan kami, apakah ada makhlukMu yang lebih kuat dari pada air?", Allah menjawab, "Ada yaitu angin" mereka bertanya (lagi), "Wahai Tuhan kami, apakah ada makhlukMu yang lebih kuat dari pada angin?", Allah menjawab, "Ada yaitu seorang anak Adam yang bersedekah dengan tangan kanannya lalu dia sembunyikan agar tidak diketahui tangan kanannya". Diriwayatkan oleh Imam Ahamad dalam Musnadnya 3/124 dari hadits Anas bin Malik. Berkata Ibnu Hajar, "Dari hadits Anas dengan sanad yang hasan marfu'" (Al-Fath 2/191).

Sungguh benar orang yang berkata, "Jangan heran kalau engkau melihat seorang yang bisa jalan di atas air, karena syaitan juga bisa berjalan di atas air. Janganlah heran kalau engkau melihat seorang yang berjalan terbang diudara, karena syaitan juga bisa terbang di udara. Tapi heranlah engkau jika engkau melihat seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya namun tangan kirinya tidak mengetahuinya, karena syaitan tidak bersedekah (apalagi dengan ikhlas) (Untaian kalimat ini, penulis tidak mengetahui siapa yang mengucapkannya. Namun penulis pernah mendengarnya dari seorang petugas penjaga mushola dikapal laut, tatkala menyampaikan nasehat pada awak penumpang kapal. Mungkin saja dialah yang mengucapkan perkataan ini pertama kali. Namun bagaimanapun perkataan ini benar maknanya jika ditinjau dari kacamata syar'i, Wallahu A'lam).

Ingat perkataan Ibnul Qoyyim, "Tidaklah akan berkumpul keikhlasan dalam hati bersama rasa senang untuk dipuji dan disanjung dan keinginan untuk memperoleh apa yang ada pada manusia kecuali sebagaimana terkumpulnya air dan api…" (Fawaid Al-Fawaid, Ibnul Qoyyim, tahqiq Syaikh Ali Hasan, hal 423). Wahai Dzat yang membolak-balikan hati-hati (manusia) tetapkanlah hatiku di atas agamaMu.

Read more...

Masjid dengan makam

>> Monday, September 26, 2005

Saya baru saja mendapat informasi mengenai masjid2 di Singapore yang ada makamnya dari seorang akhwat di sini. Alhamdulillah. Semoga informasi ini bermanfaat bagi ikhwah sekalian yang bermukim di Singapore.

Berikut kutipan message nya:
" Please be aware that masjid Sultan, Wak Tanjong, Habib Noor, and Ba'alwi have grave inside. Haram to solat in them. Astaghfirullah. Please be careful if solat at local masjid, especially the old ones and those from wakaf land. Wallahu'alam."

Mengenai larangan solat di masjid yang ada kuburnya, silakan lihat di sini:

1. http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=682&bagian=0

2. http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=643&bagian=0

Read more...

Hanya ALLAH yang berhak untuk dipuji

>> Monday, January 03, 2005

"Dan mereka (orang-orang musyrik) tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sebenar-benarnya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat, dan semua langit digulung dengan Tangan Kanan-Nya. Maha Suci dan Maha Tinggi Allah dari segala perbuatan syirik mereka." (Az-Zumar: 67)

'Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'anhu menuturkan: "Salah seorang pendeta Yahudi datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan berkata: "Wahai Muhammad! Sesungguhnya kami menjumpai (dalam kitab suci kami) bahwa Allah akan meletakkan langit di atas satu jari, pohon-pohon di atas satu jari, air di atas satu jari, tanah di atas satu jari, dan seluruh makhluk di atas satu jari, maka Allah berfirman: "Aku-lah Penguasa."

Tatkala mendengarnya, tersenyumlah Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam sehingga tampak gigi-gigi beliau, karena membenarkan ucapan pendeta Yahudi itu; kemudian beliau membacakan firman Allah: "Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sebenar-benarnya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat..." dst.

Muslim meriwayatkan dari Ibnu 'Umar bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: Allah akan menggulung seluruh lapisan langit pada hari kiamat lalu diambil dengan Tangan Kanan-Nya, dan berfirman: "Aku-lah Penguasa; mana orang-orang yang berlaku lalim, mana orang-orang yang berlaku sombong?" Kemudian Allah menggulung ketujuh lapis bumi, lalu diambil dengan Tangan Kiri-Nya dan berfirman: "Aku-lah Penguasa; mana orang-orang yang berlaku lalim, mana orang-orang yang berlaku sombong?"

Diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Langit tujuh dan bumi tujuh di Telapak Tangan Allah Ar-Rahman, tiada lain hanyalah bagaikan sebutir biji sawi yang diletakkan di tangan seseorang di antara kamu."

Ibnu Jarir berkata: Yunus menuturkan kepadaku, dari Ibnu Wahb, dari Ibnu Zaid, dari bapaknya (Zaid bin Aslam), ia menuturkan: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ketujuh langit berada di Kursi, tiada lain hanyalah bagaikan tujuh keping dirham yang diletakkan di atas perisai."

Ibnu Jarir berkata pula: Dan Abu Dzar Radhiyallahu 'anhu menuturkan: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Kursi itu berada di 'Arsy, tiada lain hanyalah bagaikan sebuah gelang besi yang dicampakkan di tengah padang pasir."

Arif --> tahu akan Allah, Asma' dan Sifat-Nya --> menyadari segala yang terjadi adalah dengan qadha' dan qadar Allah --> menyadari akan kepastian adanya hikmah yang besar dalam qadar-Nya --> hanyalah ALLAH yang berhak untuk dipuji.

Read more...

  © Blogger template by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP